Di Indramayu akhir abad ke-19, seorang santri bernama Kartawidjaja menukar Al-Quran dengan Injil. Dari pesantren ke gereja, kisahnya mencerminkan benturan iman, modernitas, dan kuasa kolonial Belanda.
Di Batavia akhir abad ke-19, dua tokoh bersilang jalan: Snouck Hurgronje, orientalis Belanda, dan Sayyid Utsman, ulama Hadrami. Bersama, mereka jadi mufti bayangan yang menafsirkan Islam demi kuasa kolonial.
Dari Leiden hingga Batavia, pengetahuan tumbuh di bawah bayang-bayang kuasa. Di tangan kolonial, ilmu bukan lagi jalan memahami, melainkan alat menundukkan dunia yang tak pernah mereka pahami sepenuhnya.
Dari arsip Leiden hingga benteng Batavia, pengetahuan Eropa tentang Islam tumbuh tanpa empati. Naskah dikaji, bahasa dipelajari, tapi ruh Nusantara tetap asing di mata penjajahnya.
Dari lontar yang disangka teks Jepang hingga kamus yang salah tafsir, Belanda berabad-abad gagal memahami Islam di Nusantara. Michael Laffan menulis: kuasa mereka besar, tapi jiwanya tak tersentuh.
Dalam surat-suratnya di De Locomotief, Snouck Hurgronje tampil bukan hanya sebagai ilmuwan, melainkan sebagai wedana kolonial yang menulis dari atas menara kekuasaan.
Tahun 1889, Snouck Hurgronje tiba di Batavia membawa dua wajah: orientalis dan haji. Di balik risetnya tentang Islam Jawa, tersembunyi kisah kolaborasi, pengawasan, dan persinggungan iman.
Dari ladang tebu yang terbakar di Cilegon 1888 hingga meja birokrat kolonial di Batavia, lahir proyek besar Belanda: menjinakkan Islam. Ketakutan pada Mekah berubah jadi strategi kekuasaan.
Di Batavia tahun 1886, dua cendekia duduk bersekutu di bawah bayang kolonial: Snouck Hurgronje dan Sayyid Utsman. Dari meja kerja mereka lahir proyek besar: membentuk Islam yang jinak di Hindia.
Pada 1886, Snouck Hurgronje menulis dengan amarah dan ambisi: memahami Islam agar bisa mengendalikannya. Dari Leiden ke Mekah hingga Batavia, ilmunya menjelma senjata kolonial membentuk Islam yang dapat diatur.
Dari arsip berdebu di Leiden, terkuak jejak Snouck Hurgronje: ilmuwan yang menjembatani jihad Aceh dan reformasi Kairo. Michael Laffan menulis, orientalisme bukan sekadar ilmuia juga kekuasaan yang menyamar.
Islam Nusantara bukan kisah damai tanpa riak. Michael Laffan melihatnya sebagai gunung api yang sesekali meletuslahir dari silang budaya, jaringan ulama global, dan tekanan kolonial.