Tragedi Cimareme 1919 mempertemukan dzikir dan peluru. Di balik doa Haji Hasan tersimpan perlawanan agraria dan kebangkitan politik Islam. Kolonial menanggapinya dengan darah, bukan keadilan.
Tragedi Cimareme 1919 membuka babak kelam antara kolonialisme dan kesalehan rakyat. Dari dzikir yang disangka pemberontakan hingga perpecahan Sarekat Islam, sejarah mencatat iman dan politik pernah bertarung di tanah Priangan.
Di awal abad ke-20, Islam di Hindia Belanda tak lagi sekadar urusan doa dan tarekat. Sarekat Islam menjelma kekuatan sosial baru yang membuat resah pejabat kolonial, misionaris, dan para orientalis Belanda.
Dari ruang pengajian dan percetakan kecil, muncul gelombang reformasi Islam di Hindia Belanda: dari tarekat menuju serikat, dari sayyid menuju syekhlahirnya kesadaran modern dan kebangsaan.
Di awal abad ke-20, ketika Hindia Belanda berupaya memahami sekaligus mengendalikan Islam, seorang penasihat kolonial bernama Christiaan Snouck Hurgronje menjadi arsitek intelektual di balik kebijakan itu.
Surat kabar Al-Imam hanya hidup dua tahun, tapi gaungnya membelah sejarah Islam di Asia Tenggaradari zikir di zawiyah ke debat di ruang publik, dari Sufisme ke Salafisme.
Dari ajaran tarekat di Mekah hingga perdebatan di Padang, dari fatwa Ahmad al-Fatani sampai kritik tajam Ahmad Khatib al-Minangkabawijejak Sufisme Nusantara menuntun lahirnya Islam modern Indonesia.
Di awal abad ke-20, Bandung geger oleh tuduhan iblis bersorban. Hasan Mustafa, ulama karismatik murid Snouck Hurgronje, dituding menyesatkan umatpadahal ia hanya mencoba berdamai dengan modernitas.
Di Indramayu akhir abad ke-19, seorang santri bernama Kartawidjaja menukar Al-Quran dengan Injil. Dari pesantren ke gereja, kisahnya mencerminkan benturan iman, modernitas, dan kuasa kolonial Belanda.
Di Batavia akhir abad ke-19, dua tokoh bersilang jalan: Snouck Hurgronje, orientalis Belanda, dan Sayyid Utsman, ulama Hadrami. Bersama, mereka jadi mufti bayangan yang menafsirkan Islam demi kuasa kolonial.
Dari Leiden hingga Batavia, pengetahuan tumbuh di bawah bayang-bayang kuasa. Di tangan kolonial, ilmu bukan lagi jalan memahami, melainkan alat menundukkan dunia yang tak pernah mereka pahami sepenuhnya.
Dari arsip Leiden hingga benteng Batavia, pengetahuan Eropa tentang Islam tumbuh tanpa empati. Naskah dikaji, bahasa dipelajari, tapi ruh Nusantara tetap asing di mata penjajahnya.
Dari lontar yang disangka teks Jepang hingga kamus yang salah tafsir, Belanda berabad-abad gagal memahami Islam di Nusantara. Michael Laffan menulis: kuasa mereka besar, tapi jiwanya tak tersentuh.