Ketika yang remeh dielu-elukan dan yang pokok diabaikan, saatnya kita kembali membuka Al-Quran dan menakar ulang apa yang sesungguhnya paling dikehendaki agama.
Ketika lembaga pendidikan Islam sibuk menghafal perdebatan klasik dan melupakan tantangan kekinian, umat hanya dijejali hafalan tanpa arah. Seruan Yusuf al-Qardhawi tentang Fiqh Prioritas semakin relevan.
Salah satu teladan yang paling jelas dari metode bertahap itu adalah soal pengharaman khamar. Al-Quran tidak serta-merta mengharamkan minuman keras di awal dakwah.
Islam datang membawa keseimbangan antara dunia rohani dan dunia nyata, antara akal dan rasa. Itu pula sebabnya, para sufi yang lurus selalu berjalan di atas timbangan Al-Quran dan Sunnah.
Telah menjadi ijma di kalangan Muslimin, di semua negara, pada setiap masa, bahwa rambut wanita termasuk perhiasan yang wajib ditutup di hadapan orang yang bukan mahramnya.
Setelah sekian lama umat Islam tertidur panjang seperti Ashabul Kahfi dalam gua, kini mereka bangkit. Lirih pada awalnya, lalu lantang, hingga tak bisa lagi diabaikan.
Hubungan seksual dalam Islam sebagai ibadah, asalkan dilakukan di jalur halal. Nabi bahkan menyatakan, Di kemaluan kalian ada sedekah, saat para sahabat heran bahwa aktivitas biologis di ranjang ternyata berpahala.
Di mimbar-mimbar ia dipuji sebagai wali agung yang masih hidup hingga hari ini, terus berkelana sebagai penjaga rahasia Tuhan. Di warung kopi, kisah-kisah penampakannya menyelusup sebagai cerita rakyat yang ajaib.
Beliau menegaskan bahwa tidak ada satu pun hadis sahih yang memastikan bahwa makhluk pertama adalah Nabi Muhammad, atau pena, atau akal, sebagaimana kerap diklaim oleh sebagian orang.
Kendati memimpin pasukan yang berhadapan langsung dengan sahabat-sahabat besar seperti Aisyah, Thalhah, dan Zubair, Ali tidak menjatuhkan vonis kafir kepada lawannya. Ia menyebut mereka sebagai bughah, pembangkang, bukan murtad.
Iman, kata dia, tumbuh secara bertahap. Demikian pula kemunafikan. Semuanya berjalan perlahan, seperti kabut yang menebal atau sinar yang merembes perlahan ke dalam relung jiwa.