Kedokteran modern seringkali dianggap tidak sejalan dengan pengobatan islami berbasis herbal yang biasa disebut thibbun nabawi. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon, Buya Yahya, mengatakan, ilmu kedokteran dan thibbun nabawi sebenarnya saling melengkapi.
Dasar-dasar pengobatan Islam dimulai seiring berkembangnya dakwah Islam pada abad 7 Masehi. Al-Qur'an dan tradisi Kenabian (hadits) membahas pentingnya kebersihan pribadi dan kesehatan masyarakat.
Tokoh terbesar dalam sejarah kedokteran Islam adalah Ibnu Sina. Namum selain Ibnu Sina, tercatat banyak dokter hebat dalam sejarah peradaban Islam, berikut di antaranya.
Salah satu tenaga medis yang sangat mumpuni di zaman Rasulullah SAW yakni sang istri, Aisyah binti Abu Bakar. Kecerdasan Aisyah radiallahu anha (RA) tercermin dari pintarnya dalam ilmu kedokteran yang membuat orang lain kagum
Pakar Sirah Nabawiyah, Ustadz Asep Sobari, menuturkan, kedokteran modern hari ini banyak berkiblat kepada para ilmuwan kedokteran muslim. Dalam sejarah Islam, ilmu kedokteran berkembang sangat pesat. Berikut tiga tahap sejarah perkembangan ilmu kedokteran Islam.
Calista Felicia Ghaydaqila tercatat sebagai lulusan termuda dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB). Dia sudah menyandang Sarjana Kedokteran di usia 18 tahun dengan IPK 3,64.
Menurut Zullies, ganja yang digunakan dalam bentuk belum murni atau bagian utuh dari ganja mengandung senyawa tetrahydrocannabinol (THC) yang bersifat psikoaktif.
Ibnu Sina menempati posisi terhormat dalam studi medis Barat. Karya-karyanya memiliki dampak penting pada pengobatan modern dan di beberapa universitas terus digunakan sebagai bahan ajar hingga abad 19.
Pembangunan gedung FK UNIDA Gontor menjadi penanda perkembangan pendidikan di Gontor, dan hubungan baik antara Gontor dengan pemerintah dan masyarakat setempat.
Setelah umat bersentuhan dengan peradaban besar melalui futuhat (pembebasan), ilmu kedokteran berkembang pesat, karena mereka mempelajarinya di peradaban lain.
Asep Sobari menegaskan, kedokteran dalam Islam bersifat terbuka dan luas, tidak hanya berdasar pada nash-nash atau cara yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW.
Cacar di Turki tak lagi dianggap berbahaya setelah penemuan metode pencangkokan atau engrafting, yakni jaringan hidup dari penderita ditransplantasikan melalui pembedahan.