Api dahsyat meletus di Madinah pada 654 Hijriyah, menerangi langit hingga ke Syam. Fenomena vulkanik ini menjadi bukti autentik nubuat Nabi tentang salah satu tanda kecil mendekatnya hari kiamat.
Penaklukan Baitul Maqdis di masa Umar bin al-Khaththab merupakan penggenapan nubuat Nabi sekaligus tanda kecil kiamat. Peristiwa tahun 16 Hijriyah ini menjadi pembuka gerbang bagi drama akhir zaman.
Kelimpahan harta di akhir zaman menjadi paradoks sosial: pemiliknya susah mencari orang yang mau menerima sedekah. Fenomena ini menandai titik jenuh materi di mana emas dan perak kehilangan harganya.
Diutusnya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah alarm pertama kiamat. Isyarat dua jarinya menegaskan bahwa dunia telah memasuki babak final dan tidak ada nabi lagi yang menghalangi kehancuran semesta.
Nubuat Nabi tentang bangsa Turk berwajah lebar terbukti dalam sejarah invasi Mongol hingga kejayaan Dinasti Utsmaniyah. Al-Wabil mengurai transformasi bangsa ini dari penghancur menjadi pilar Islam.
Al-Wabil membedah kebatilan teori pembatasan umur dunia 7000 tahun. Di tengah klaim as-Suyuthi, realitas sejarah dan kritik Ibnul Qayyim membuktikan bahwa waktu kiamat mutlak menjadi rahasia Allah.
Al-Wabil membedah rahasia kiamat: bahkan nabi Ulul Azmi pun tidak tahu kapan jam terakhir tiba. Spekulasi waktu kiamat disebut sebagai kebodohan yang menentang otoritas mutlak Allah.
Nabi Muhammad SAW pernah membentangkan peta masa depan dalam khotbah sehari penuh. Hudzaifah Ibnul Yaman menjadi saksi kunci nubuat tentang fitnah yang akan melanda dunia.
Pengetahuan kiamat adalah rahasia mutlak Allah. Al-Wabil menegaskan bahwa nabi dan malaikat pun tidak tahu kapan jam terakhir berdetak, menjadikan misteri ini sebagai peringatan bagi setiap jiwa.
Iman kepada shirth membuktikan bahwa amal adalah bagian tak terpisahkan dari iman. Renungan Imam al-Qurthubi mengajak kita mempercepat langkah dalam kebaikan demi keselamatan di atas Jahannam.
Bagi Achmad Baiquni, alam semesta bukan ruang kosong, melainkan kitab terbuka berisi ayat-ayat Allah. Ia menuntut manusia berpikir, meneliti, dan membaca langit sebagaimana membaca wahyu.
Dari Guatemala, para astronom menegaskan bahwa pemandangan itu hanyalah awan yang diposisikan sempurna. Namun bagi umat Islam, gambaran Bulan terbelah adalah gema mukjizat Rasulullah SAW lebih dari seribu tahun lalu.