Menurut Shofwan Al Banna, kondisi hari ini merupakan arus balik sejarah, yang berupaya secara sistematis untuk mengembalikan tatanan dunia ke awal abad ke-20, di mana hierarki kolonial dan supremasi kulit putih menjadi panglima.
Di mimbar Ramadhan Public Lecture yang digelar di Masjid Kampus UGM pada Jumat, 27 Februari 2026, Prof Zuly memaparkan bagaimana nilai-nilai Islam seharusnya menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang harmonis dan inklusif seperti tertulis dalam surah Al Hujurat.
Dalam mimbar Ramadhan Public Lecture yang menghadirkan Wakil Ketua KPK RI, Ibnu Basuki Widodo pada Kamis (26/2/2026) mengulik tentang diskursus krusial mengenai masa depan integritas bangsa.
Dalam mimbar Ramadhan Public Lecture bertajuk Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat Melalui Kebijakan Publik yang Berkeadilan, Anggota DPD RI, Ahmad Syauqi Soeratno, membedah siklus kebijakan dengan napas spiritualitas juga intelektualitas.
Ketua Program Doktor Pendidikan Agama Islam UIKA, Adian Husaini menyebut masa ini sebagai era matinya kepakaran dan munculnya manusia-manusia yang sok tahu.
Ketua Bahtsul Masail PBNU, KH Mahbub Ma'afi Ramdlan di Ramadhan Public Lecture, rangkaian acara Ramadhan di Kampus UGM, membedah akar persoalan ini melalui tinjauan fiqih klasik dan relevansinya di era modern.
Islam, kata Qardhawi, tidak berhenti di teori. Ia hidup dalam tindakan sederhana: menyapa, memberi, menjenguk. Di sanalah dakwah sejati berdenyuthangat, manusiawi, dan penuh kasih.
PP Aisyiyah dorong kebiasaan baru ibu-ibu di pasar untuk mengurangi plastik sekali pakai lewat program Pasar Tradisional Bebas Plastik, wujud jihad lingkungan demi kota bebas sampah.
Seni Islami tidak terbatas bahasa Arab atau simbol agama. Ia lahir dari fitrah, memadukan keindahan dan kebenaran, serta menjadi sarana dakwah yang menyapa manusia dan alam.
Di balik riuh perang kolonial, dakwah Islam di Nusantara bukan sekadar ibadah, tetapi bara perlawanan yang menyatukan umat, menguatkan iman, dan menyalakan api kemerdekaan.
Di Kayu Manis, sebuah desa dekat Cirebon, hampir seluruh penduduknya menganut paham ini. Mereka berdakwah lewat diskusi informal, kunjungan rumah, atau dialog di kampus-kampus.
Tak ada yang salah dari semangat itu. Tapi ketika ilmu yang mereka tinggalkan adalah bagian dari kebutuhan strategis umat, keputusan itu justru membuat kita terdiam.