Ustaz Budi sepakat dengan anggapan bahwa menjadi orang tua tidak memiliki sekolah. Namun, orang tua punya pengalaman saat menjadi anak-anak yang bisa dijadikan pembelajaran dalam mendidik anak.
Momen ini bisa dimanfaatkan orang tua untuk memberikan pengertian kepada si kecil tentang bagaimana sebaiknya berperilaku yang baik berkaitan dengan kebiasaan barunya tersebut.
Pendakwah dan pendiri Pondok Pesantren Daarut Tauhid, Yan Gymnastiar atau Aa Gym mengatakan orang tua harus evaluasi diri dan bertobat ketika anak tumbuh tidak sesuai dengan keinginan.
Orang tua mana yang tidak sedih jika kehilangan seorang anak. Apalagi, jika anak itu masih berumur 1-5 tahun. Terlebih, saat ini gangguan ginjal akut menghantui para orang tua. Buya Yahya menyampaikan bahwa orang tua yang ditinggal anaknya akan mendapat ganjaran surga.
Islam mengajarkan umatnya, termasuk anak-anak, untuk berlaku sopan dan santun terhadap sesama. Namun, sifat kerendahan hati itu tidak akan muncul tanpa ada dorongan dari orang tua.
Dokter Spesialis Anak, dr. Shela Putri Sundawa, Sp.A mengingatkan para orang tua untuk mengantisipasi gangguan ginjal akut progresif atipikal/acute kidney injury (AKI). Dia menyampaikan cara bagaimana orang tua melakukan deteksi dini gejala pada anak.
Orang tua memiliki tanggung jawab terhadap anaknya di dunia hingga akhirat. Terkait tanggung jawab di akhirat, benarkah orang tua akan ikut menanggung dosa anak?. Begini penjelasan Buya Yahya dan Quraish Shihab.
Jika orang tua menginginkan perkembangan anak optimal terutama pada kesehatan mentalnya, maka mereka wajib hadir dalam kehidupan anak baik secara fisik maupun emosional.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon, Buya Yahya, menjelaskan, orang tua memiliki kewajiban kepada anaknya. Bukan hanya anak yang memiliki kewajiban kepada orang tua. Orang tua juga harus memenuhi kewajiban terhadap anak.
Hidup boros atau senang membuang-buang harta untuk hal yang tak penting termasuk meniru perilaku setan. Karena itu, saat orang terdekat berkelakuan boros hendaknya kita menasehati untuk menghentikan kebiasaan itu.
Penceramah dan pakar parenting islami, Ustazah dr Aisah Dahlan untuk memperbaikinya tergantung dari situasi. Biasanya, menurut pengalaman yang pernah dilaluinya, kebanyakan anak-anak yang memulai terlebih dulu. Pasalnya, anak lebih mudah untuk dibujuk.