Dalam narasi modern kita, agama hanya jadi pelengkap. Ia hanya muncul di acara pernikahan, peresmian, atau pemakaman. Tapi dalam ranah kehidupan sehari-hari, politik, ekonomi, pendidikan, agama dianggap tidak punya peran.
Dalam dunia yang sibuk mengejar sehat secara fisik, Islam mengajukan satu istilah yang lebih luas: afiat. Kesehatan bukan sekadar bebas dari penyakit, tapi juga selamat dari tipu daya.
Perintah yang sederhana, kata Quraish,tetapi hingga hari ini, tafsirnya masih jadi medan silang pendapat ulama, menjadi bagian dari diskursus panjang tentang tubuh dan identitas perempuan Muslim.
Frekuensi dan waktu menjenguk orang sakit sangat bergantung pada kebiasaan, kondisi penjenguk, kondisi si sakit, dan seberapa jauh hubungan yang bersangkutan dengan si sakit.
Dalam masyarakat yang semakin kompleks, simbol visual seperti pakaian menjadi bahasa tanpa kata untuk menyampaikan siapa kita dan kepada siapa kita merasa berutang kesetiaan.
Dijadikannya menjenguk orang sakit sebagai hak seorang muslim terhadap muslim lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis, tidak berarti bahwa orang sakit yang non-Muslim tidak boleh dijenguk.
Menurut Syaikh, jenis manusia pertama adalah mereka yang tidak berhati dan tidak berlidah. Mereka adalah orang-orang bodoh dan hina, yang tidak pernah mengingat Allah.
Secara tegas, Allah menyatakan bahwa manusia merupakan puncak ciptaan-Nya, dengan tingkat kesempurnaan dan keunikan yang prima dibanding makhluk lainnya (QS. 95:4).
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Mereka hidup di sisi Tuhan mereka dengan mendapatkan rezeki. (QS Ali 'Imran 3: 169)