Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 31 Mei 2026
home global news detail berita

Kala Rasulullah dan Sahabat Menangis Ditinggal Ramadhan

Muhajirin Senin, 02 Mei 2022 - 20:05 WIB
Kala Rasulullah dan Sahabat Menangis Ditinggal Ramadhan
Ilustrasi seorang muslim sedih ditinggalkan bulan penuh berkah dan maghfiroh Ramadhan. Foto: Langit7.id/iStock
LANGIT7, Jakarta - Allah Ta’ala mencintai hamba-Nya yang tidak mementingkan kesenangan lahiriah semata dalam menjalankan hari-hari terakhir Ramadhan. Seperti yang ditunjukkan Rasulullah SAW dan para sahabat.

Rasulullah ketika memasuki 10 terakhir Ramadhan semakin memaksimalkan ibadah. Beliau menghidupkan malam dengan ibadah. Saat hari terakhir, beliau menangis karena sebentar lagi ditinggal bulan mulia itu.

Baca Juga: Kisah: Semangat Para Sahabat Gapai Malam Lailatul Qadar

Suatu ketika Rasulullah pernah berkata, apabila malam terakhir bulan Ramadhan tiba, maka menangislah langit, bumi, dan para malaikat karena musibah menimpa umat Muhammad SAW. Kemudian sahabat bertanya tentang musibah apa yang akan menimpa mereka. Rasulullah menjawab:

"Perginya bulan Ramadhan, karena di bulan Ramadhan itu semua diijabah, semua sedekah diterima, semua kebaikan dilipatgandakan pahalanya dan siksa ditolak (dihentikan)," (Diriwayatkan dari Jabir).

Sementara, belum tentu kita dipertemukan kembali dengan bulan suci pada tahun berikutnya. "Sekiranya umatku ini mengetahui apa-apa (kebaikan) di dalam bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar tahun semuanya itu menjadi Ramadhan," (Diriwayatkan dari Ibnu Abbas).

Baca Juga: Muliakan Orang Tua, Begini Pesan Rasulullah soal Harta Milik Anak

Bagi para salafush shalih, setiap Ramadhan pergi, mereka selalu meneteskan air mata. Di lisan terucap sebuah doa yang merupakan ungkapan kerinduan akan datangnya kembali Ramadhan menghampiri mereka.

Seperti yang ditunjukkan Ali bin Abi Thalib. Mengutip laman resmi Kemenag, keteladanan Ali bin Thalib tentang penghujung Ramadhan disaksikan dua sahabat karibnya, Ibnu Rafi’i dan Abu Al Aswad Ad Du’ali. Kisah itu termaktub dalam Kitab Sirah Ashabun Nabi, karya Syaikh mahmud al-Misri dan Siyar A’lam An-Nubala, karya Imam Adz-Dzahabi.

Setelah shalat ashar saat Ramadhan dan setelah seharian beliau tampak sedih karena Ramadhan akan segera berakhir, Ali kemudian pulang dari masjid. Saat sampai di rumah, dia disambut sang istri tercinta, Sayyidah Fatimah Az-Zahra dengan pertanyaan penuh perhatian.

Baca Juga: Jangan Larang Anak-Anak Datang ke Masjid, Pahami Pesan Rasulullah

"Kenapa Engkau terlihat pucat, kekasihku? Tak Ada tanda-tanda keceriaan sedikit pun di wajahmu, padahal sebentar lagi kita akan Menyambut hari kemenangan?" ungkap Fatimah.

Ali hanya terdiam lesu. Tak berapa lama dia meminta pertimbangan sang istri untuk menyedekahkan semua simpanan pangannya kepada fakir miskin.

"Hampir sebulan kita mendapat pendidikan dari Ramadhan, bahwa lapar dan haus itu teramat pedih. Segala puji bagi Allah SWT, yang sering memberi hari-hari kita dengan perut sering terisi," kata Ali menjawab pertanyaan Fatimah.

Setelah itu dan sebelum takbir berkumandang, Ali terlihat sibuk mendorong pedatinya. Pedati tersebut berisi tiga karung gandum dan dua karung kurma hasil dari panen kebunnya. Beliau berkeliling dari pojok kota dan perkampungan untuk membagi-bagikan simpanan pangan tersebut kepada fakir miskin dan yatim piatu.

Baca Juga:

Sikap Mandiri dalam Islam, Ini Harapan Rasul terhadap Umatnya

Cara Berdagang Rasulullah, Beretika Baik kepada Pelanggan

Bagaimana Bentuk Demonstrasi Pada Masa Rasulullah dan Sahabat?


(asf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 31 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)