LANGIT7, Jakarta - Allah Ta’ala mencintai hamba-Nya yang tidak mementingkan kesenangan lahiriah semata dalam menjalankan hari-hari terakhir
Ramadhan. Seperti yang ditunjukkan Rasulullah SAW dan para sahabat.
Rasulullah ketika memasuki 10 terakhir Ramadhan semakin memaksimalkan ibadah. Beliau menghidupkan malam dengan ibadah. Saat hari terakhir, beliau menangis karena sebentar lagi ditinggal bulan mulia itu.
Baca Juga: Kisah: Semangat Para Sahabat Gapai Malam Lailatul QadarSuatu ketika
Rasulullah pernah berkata, apabila malam terakhir bulan Ramadhan tiba, maka menangislah langit, bumi, dan para malaikat karena musibah menimpa umat Muhammad SAW. Kemudian sahabat bertanya tentang musibah apa yang akan menimpa mereka. Rasulullah menjawab:
"
Perginya bulan Ramadhan, karena di bulan Ramadhan itu semua diijabah, semua sedekah diterima, semua kebaikan dilipatgandakan pahalanya dan siksa ditolak (dihentikan)," (Diriwayatkan dari Jabir).
Sementara, belum tentu kita dipertemukan kembali dengan bulan suci pada tahun berikutnya. "
Sekiranya umatku ini mengetahui apa-apa (kebaikan) di dalam bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar tahun semuanya itu menjadi Ramadhan," (Diriwayatkan dari Ibnu Abbas).
Baca Juga: Muliakan Orang Tua, Begini Pesan Rasulullah soal Harta Milik AnakBagi para
salafush shalih, setiap Ramadhan pergi, mereka selalu meneteskan air mata. Di lisan terucap sebuah doa yang merupakan ungkapan kerinduan akan datangnya kembali Ramadhan menghampiri mereka.
Seperti yang ditunjukkan
Ali bin Abi Thalib. Mengutip laman resmi Kemenag, keteladanan Ali bin Thalib tentang penghujung Ramadhan disaksikan dua sahabat karibnya, Ibnu Rafi’i dan Abu Al Aswad Ad Du’ali. Kisah itu termaktub dalam Kitab Sirah Ashabun Nabi, karya Syaikh mahmud al-Misri dan Siyar A’lam An-Nubala, karya Imam Adz-Dzahabi.
Setelah shalat ashar saat Ramadhan dan setelah seharian beliau tampak sedih karena Ramadhan akan segera berakhir, Ali kemudian pulang dari
masjid. Saat sampai di rumah, dia disambut sang istri tercinta, Sayyidah Fatimah Az-Zahra dengan pertanyaan penuh perhatian.
Baca Juga: Jangan Larang Anak-Anak Datang ke Masjid, Pahami Pesan Rasulullah"Kenapa Engkau terlihat pucat, kekasihku? Tak Ada tanda-tanda keceriaan sedikit pun di wajahmu, padahal sebentar lagi kita akan Menyambut hari kemenangan?" ungkap Fatimah.
Ali hanya terdiam lesu. Tak berapa lama dia meminta pertimbangan sang istri untuk menyedekahkan semua simpanan pangannya kepada
fakir miskin.
"Hampir sebulan kita mendapat pendidikan dari Ramadhan, bahwa lapar dan haus itu teramat pedih. Segala puji bagi Allah SWT, yang sering memberi hari-hari kita dengan perut sering terisi," kata Ali menjawab pertanyaan
Fatimah.
Setelah itu dan sebelum takbir berkumandang, Ali terlihat sibuk mendorong pedatinya. Pedati tersebut berisi tiga karung gandum dan dua karung kurma hasil dari panen kebunnya. Beliau berkeliling dari pojok kota dan perkampungan untuk membagi-bagikan simpanan pangan tersebut kepada fakir miskin dan
yatim piatu.
Baca Juga:
Sikap Mandiri dalam Islam, Ini Harapan Rasul terhadap Umatnya
Cara Berdagang Rasulullah, Beretika Baik kepada Pelanggan
Bagaimana Bentuk Demonstrasi Pada Masa Rasulullah dan Sahabat?(asf)