Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 Juli 2026
home lifestyle muslim detail berita

Depresi hingga Gangguan Makan, Ini Dampak Pelecehan Seksual bagi Penyintas

Fifiyanti Abdurahman Jum'at, 08 Juli 2022 - 11:02 WIB
Depresi hingga Gangguan Makan, Ini Dampak Pelecehan Seksual bagi Penyintas
Ilustrasi korban pelecehan seksual yang merasa sendiri di tengah keramaian. Foto: LANGIT7/iStock
LANGIT7.ID - , Jakarta - Tersangka tindakan asusila, MSAT (42) di Ploso, Jombang sudah menyerahkan diri ke pihak kepolisian pada Kamis (7/7/2022) malam, sekitar pukul 23.35 WIB.

Tersangka MSAT melakukan pelecehan seksual terhadap seorang santriwati di salah satu ponpes di Ploso, Jombang, Jawa Timur. Meski tersangka MSAT telah menyerahkan diri, namun kekerasan atau pelecehan seksual itu memiliki dampak buruk bagi si korban.

Merujuk dari RAINN, organisasi anti kekerasan seksual yang berbasis di Washington D.C menyebutkan ada sejumlah efek yang dialami penyintas kekerasan seksual, di antaranya adalah depresi atau gangguan suasana hati. Umumnya, penyintas akan mengalami perasaan sedih dan putus asa dalam jangka waktu lama. Kondisi ini dapat mengganggu pola pikir yang teratur.

Baca juga: Buru MSAT Tersangka Pelecehan Seksual, Polda Jatim Dihalangi Puluhan Orang

Akibat lainnya adalah berpengaruh pada perilaku penyintas dan hubungannya dengan lingkungan sekitar. Depresi tidak pandang bulu, artinya dapat mempengaruhi siapa saja dari segala usia, jenis kelamin, ras, etnis atau agama.

Depresi bukanlah tanda kelemahan, namun ini adalah kondisi kesehatan mental yang serius. Untuk mengatasinya penyintas harus mendapat bantuan dari seorang yang profesional.

Meskipun setiap penyintas unik dalam pengalaman mereka, namun tak sedikit dari mereka yang mengalami efek lain selain depresi, seperti perasaan malu. Washington Coalition of Sexual Assault Programs menjelaskan, penyintas akan merasa kondisi mereka saat ini salah, kotor, dan cacat permanen.

Penyintas pun akan selalu menganggap pelecehan tersebut terjadi karena kesalahan mereka. Sangat sulit bagi para penyintas untuk menyalahkan orang yang menyerang mereka.

Terlebih, seringkali pelaku adalah orang yang dekat dan ingin mereka lindungi. Sebaliknya, bisa jadi dengan menyalahkan pelaku kemudian merasa tidak berdaya, karena pelaku memiliki kuasa.

Karena kekerasan seksual merupakan pelanggaran batas, hal itu berdampak pada persepsi penyintas tentang kapan atau bagaimana menetapkan batas.

Baca juga: Tindakan Asusila di Jombang, Tersangka MSAT Serahkan Diri ke Polisi

Penyintas akan mungkin tidak terbiasa dengan batasan secara umum. Padahal penyintas juga memiliki hak untuk menciptakan dan memperkuat batasan yang dibuat. Karena itu, banyak penyintas yang membutuhkan dukungan dalam mengembangkan dan mempraktikkan batasan tadi.

Kekerasan seksual adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan. Kebanyakan penyintas merasa sulit untuk memercayai orang lain serta diri mereka sendiri dan persepsi mereka sendiri. Di sisi lain, mereka mungkin menempatkan tingkat kepercayaan yang tidak pantas pada semua orang.

Kemudian, penyintas kekerasan seksual bisa saja tidak ingat apa yang terjadi. Dalam jangka panjang, jika serangan seksual terjadi saat masih dini, penyintas mungkin tidak memiliki ingatan yang dapat diucapkan atau diceritakan.

Efek fisik yang mungkin dialami oleh penyintas adalah adanya keluhan somatik seperti gangguan makan, kecemasan, sulit berkonsetrasi, dan gejala fisik yang berkaitan dengan area di tubuh saat mengalami pelecehan seksual.

Sehingga menyebabkan emosi penyintas tidak mudah dikontrol, disorientasi atau menyangkal hingga rasa tidak tenang. Orang yang selamat mungkin tidak dapat menghalangi pikiran tentang serangan itu, atau secara bergantian, melupakan seluruh bagiannya.

Baca juga: KAI Bagi Kiat saat Mengalami atau Melihat Pelecehan Seksual di Kereta

Penyintas mungkin juga memiliki pikiran atau fantasi berada dalam situasi yang sama dan "menguasai" peristiwa traumatis.
Masalah terkait lainnya yang mungkin muncul adalah gangguan makan, perubahan fisik, perubahan seksualitas, penyalahgunaan zat, menyakiti diri sendiri, pikiran untuk bunuh diri, kemarahan, dan gangguan mood seperti depresi dan stres pasca trauma.

(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:02
Ashar
15:24
Maghrib
17:56
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan