Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 13 Agustus 2026
home lifestyle muslim detail berita

Tak Hanya Berkarakter Negatif, Generasi Stroberi Juga Bisa Positif

Muhajirin Rabu, 01 Februari 2023 - 23:03 WIB
Tak Hanya Berkarakter Negatif, Generasi Stroberi Juga Bisa Positif
Ilustrasi anak generasi stroberi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Generasi stroberi tidak selalu memiliki karakter negatif. Mereka memiliki kreativitas dan kecerdasan lebih ketimbang anak zaman dulu. Kekurangan ini bisa menjadi satu kelebihan.

Generasi stroberi merupakan istilah yang menggambarkan fenomena generasi muda saat ini. Mereka memiliki ide dan kreativitas tinggi, namun saat diberi sedikit tekanan mudah hancur seperti buah stroberi.

Praktisi Neuroparenting, Yirawati Sumedi atau Bunda Ira, menjelaskan, generasi stroberi itu memiliki empat karakter yang sering disebut negatif. Ada pula empat karakter yang menjadi kelebihan mereka, yaitu Rasa Memiliki Hak atas Diri Sendiri, tidak mau bertanggungjawab, mudah rapuh, dan memiliki harapan yang tidak realistis

Baca Juga: Mengenal Generasi Stroberi, Kreativitas Tinggi tapi Mental Lembek

Generasi stroberi merasa memiliki hak pada diri sendiri. Itu yang membuat mereka mempunyai ego dan kemampuan individual yang tinggi. Sikap ini membuat generasi stroberi cenderung merasa lebih hebat ketimbang anak-anak yang lahir pada tahun 90-an ke bawah.

“Mereka merasa punya hak pada diri sendiri. Jadi, egoistik dan individualistiknya luar biasa,” kata Bunda Ira dalam webinar Fenomena Generasi Stroberi yang diikuti Langit7, Selasa (31/1/2023).

Egoisme dan individualisme membuat generasi stroberi kesulitan mengembangkan tanggugjawab pada dirinya sendiri. Hal ini bisa dilihat dari kehidupan anak-anak zaman sekarang, khususnya mereka yang tinggal di daerah metropolitan.

Baca Juga: 4 Penyebab Anak Jadi Generasi Stroberi, Pola Asuh Jadi Penting

Terhadap hal-hal kecil saja mereka sulit bertanggung jawab. Misalnya, menyimpan kaus kaki, menyetrika baju sendiri, dan merapikan tempat tidur. Semua tergantung pada orang tua. Padahal, itu sudah menjadi tanggung jawab sendiri.

“Jadi, anak-anak sekarang banyak sekali sudah SMP, mau keluar rumah dan bajunya belum disetrika, dia bingung dan minta bantuan orangtuanya. Sepatu kotor atau mencari letak kaus kaki. Padahal itu harusnya sudah menjadi tanggung jawab sendiri,” ujar Bunda Ira.

Generasi stroberi memang memiliki ide dan kreativitas tinggi, tapi sayangnya mereka sangat mudah rapuh. Orang tua sangat berperan penting di sini untuk mendidik mereka menjadi anak-anak tangguh.

Baca Juga: Cara Islam Memandang Kekuasaan, Harus untuk Menegakkan Agama

Bunda Ira mencontohkan kecenderungan generasi stroberi untuk bunuh diri yang dinilai rentan terjadi saat ini. Apalagi, kalau anak stroberi punya idola yang melakukan bunuh diri. Akhirnya, bunuh diri dianggap hal biasa saja.Tren ini sangat memprihatinkan karena rapuhnya jiwa mereka.

“Jadi, hari ini memang kita menghadapi anak yang pintar, tapi sayangnya mudah putus asa. Kalau misalnya, menghadapi kesulitan, mereka cenderung menyerah. Mereka adalah anak-anak yang mudah menyerah, mengalir apa saja,” ucap Bunda Ira.

Generasi stroberi kadang-kadang memiliki harapan yang tidak realistis. Ini biasanya muncul dari konsumsi informasi yang sangat banyak. Banyak konten-konten flexing di media sosial. Ada pula figur publik yang memiliki segudang kekayaan dan penghargaan.

Baca Juga: Usia Berapa Anak Boleh Dengar Lagu Cinta-cintaan?

“Karena terlalu banyak menonton tayangan-tayangan atau informasi di luar yang membawa sifat hedonis, kemudian mereka juga ingin seperti itu, tapi ternyata kondisi mereka tidak memungkinkan untuk itu,” kata Bunda Ira.

Hanya saja, generasi stroberi memiliki sisi positif yang meliputi empat hal, yaitu bekerja tidak semata demi uang, suka tantangan, tidak takut menyampaikan pendapat, dan mengikuti perkembangan zaman dan teknologi.

Generasi stroberi memang mudah rapuh, tapi mereka bekerja tidak semata demi uang. Sering terdengar dari anak-anak muda yang bekerja berdasarkan passion. Mereka bekerja di bidang IT, karena memang senang dengan hal itu. Ataupun suka jadi guru, karena memang senang menjalani profesi itu.

Baca Juga: Tiru Cara Rasulullah, Didik Anak dengan Canda dan Tawa

“Ini yang luar biasa dari mereka. Jadi, totalitas kalau sudah suka pada satu pekerjaan. Anak-anak sekarang itu sudah mengukur pekerjaan berdasarkan passion. Itu perkataan anak zaman sekarang. Beda dengan orang tua dulu, mengerjakan sesuatu untuk mencari uang,” ucap Bunda Ira.

Generasi stroberi sangat suka tantangan. Mereka selalu penasaran dengan hal-hal baru. Maka tak heran, media sosial saat ini banyak diisi konten-konten tantangan seperti bertahan hidup di alam bebas dan berbagai aktivitas menantang lainnya.

“Mereka suka tantangan, meski kesukaan mereka padahal hal-hal baru atau tantangan tidak disertai dengan ketagguhan. Jadi, kadang-kadang mereka itu tidak tuntas kerjanya. Itu jadi masalah juga,” ujar Bunda Ira.

Baca Juga: Waspada! Indonesia Masuk 10 Besar Negara Fatherless, Ini yang Harus Ayah Lakukan

Generasi stroberi tidak takut menyampaikan pendapat. Itu karena mereka lahir dari orangtuanyang memang cukup demokratis dan lebih modern dalam mendidik. Itu membuat anak stroberi lebih gampang menyampaikan pendapat.

“Anak sekarang akan bertanya dan menyampaikan pendapat. Mereka memang otaknya sangat aktif untuk bertanya. Hal ini memang didukung oleh lingkungan yang membuat mereka bertanya, karena informasi yang datang banyak, akhirnya menanyakan apapun kepada orangtua,” ungkap Bunda Ira.

Manusia memang diciptakan oleh Allah dengan DNA mengikuti zamannya masing-masing. Pada zaman Rasulullah, anak-anak lahir dengan tubuh besar dan kuat serta motorik bagus pula. Itu karena mereka harus berperang dan bertahan di tengah lingkungan sosial yang keras pula.

Baca Juga: Mendongeng Efektif Bangun Kebiasaan Diskusi Orang Tua dan Anak

“Anak-anak zaman sekarang diciptakan dengan kondisi yang memang mengikuti zaman, tapi otaknya luar biasa. Dalam penelitian neurosains, jika kita lahir di tahun 1990-an ke bawah, otaknya lahir masih sekitar 100 miliar sel saraf yang ada di otak.Tapi, anak-anak yang lahir di tahun 2000-an ke atas, terlahir dengan 180 miliar sel saraf. Ini perbedaan yang sangat signifikan,” ujar Bunda Ira. Hal itu yang membuat anak-anak zaman sekarang memiliki kecerdasan yang luar biasa.

Oleh karena itu, orangtua mesti melihat potensi tersebut agar mampu membimbing anak-anak hidup di zamannya. Bukan memaksa mereka kembali zaman dulu.

Baca Juga: Rektor Paramadina: Mahasiswa Episentrum Gerakan Cerdaskan Bangsa

“Anak-anak sudah lahir membawa potensinya sendiri, orangtua tinggal mengasah potensi itu untuk seperti sesuai dengan potensinya, bukan seperti yang kita inginkan, atau seperti apa yang kita ambisikan,” ungkap Bunda Ira.

Jadi, kalau saat mendidik anak-anak ikuti perkembangan zaman dan teknologi, dan ikuti perkembangan potensi anak-anak,” pungkasnya.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 13 Agustus 2026
Imsak
04:34
Shubuh
04:44
Dhuhur
12:01
Ashar
15:22
Maghrib
17:58
Isya
19:08
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan