LANGIT7.ID, Jakarta - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), merilis pada bulan September ini masih masa transisi musim kemarau ke musim penghujan. BMKG memprediksi intensitas hujan akan meningkat pada bulan Oktober mendatang hingga puncaknya di bulan Januari dan Februari mendatang.
Dalam kacamata Islam, hujan sejatinya adalah anugerah (pemberian) dan juga rahmat dari Allah Swt untuk hamba-hambanya. Dengan hujan, tanam-tanaman, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk hidup di bumi mendapatkan manfaatnya. Bahkan dalam zakat pertanian, Rasulullah menyampaikan bahwa jika lahan pertanian tersebut dialiri air hujan, maka zakatnya adalah 10 persen, sementara jika menggunakan air irigasi dan tenaga hewan untuk mengakhirinya, maka zakatnya lima persen.
Baca Juga:Menyusuri 4 Destinasi Wisata Menarik di Kota Bunga MalinoNamun hujan juga dapat menjadi ujian, khususnya bagi orang-orang beriman. Bagaimana dengan curah dan intensitas hujan yang tinggi akan menyebabkan luapan air sungai naik dan terjadi banjir. Banyak orang yang mengeluh dan bersikap tidak semestinya ketika musibah tersebut datang. Sementara ada juga orang yang menjadikan musibah tersebut sebagai bahan untuk muhasabah (introspeksi) dan meningkatkan amal shalih.
Dalam banyak hadits shahih, Rasulullah mengajarkan doa di saat hujan turun dan juga setelah hujan turun. Bahkan jika hujan pun tak kunjung turun, Rasulullah mengajarkan dan mensunnahkan ummatnya untuk melakukan shalat istisqa. Sebagai seorang muslim, kita selalu dituntut untuk berdoa kepada Allah, termasuk ketika hujan turun. Berikut doa-doa yang dapat diamalkan ketika hujan turun dan doa setelah hujan:
Dari Ummul Mukminin, ’Aisyah radhiyallahu ’anha,
إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً
“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”. (HR. Bukhari no. 1032).
Baca Juga: Imam Nawawi Ajarkan 3 Adab Ini kepada Penghafal Al QuranIbnu Baththol mengatakan, ”Hadits ini berisi anjuran untuk berdo’a ketika turun hujan agar kebaikan dan keberkahan semakin bertambah, begitu pula semakin banyak kemanfaatan.” (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 5: 18, Asy Syamilah).
Turun Hujan Waktu Mustajab untuk Berdo’aBegitu juga terdapat hadits dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ
“Dua do’a yang tidak akan ditolak: [1] do’a ketika adzan dan [2] doa ketika ketika turunnya hujan.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahiihul Jaami’ no. 3078).
Do’a Ketika Hujan LebatNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu saat pernah meminta diturunkan hujan. Kemudian ketika hujan turun begitu lebatnya, beliau memohon pada Allah agar cuaca kembali menjadi cerah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,
اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
“Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turunkanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan].” (HR. Bukhari nomor 1014).
Baca Juga: Batik Floating Fashion Show: Peragaan Batik yang Out of the Box di Abu DhabiSyaikh Sholih As Sadlan dalam kitab Dzikru wa Tadzkir, Sholih As Sadlan, hal. 28, Asy Syamilah mengatakan bahwa do’a di atas dibaca ketika hujan semakin lebat atau khawatir hujan akan membawa dampak bahaya.
Berdo’a Setelah Turun Hujan ’Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih'. Dari Zaid bin Khalid Al Juhani, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat shubuh bersama kami di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya. Tatkala hendak pergi, beliau menghadap jamaah shalat, lalu mengatakan, ”Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian?” Kemudian mereka mengatakan,”Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ. فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا. فَذَلِكَ كَافِرٌ بِى مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ
“Pada pagi hari, di antara hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan ’Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), maka dialah yang beriman kepadaku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘Muthirna binnau kadza wa kadza’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman pada bintang-bintang.” (HR. Bukhari nomor 846 dan Muslim nomor 71).
Baca Juga:
Waktu Shalat Dhuha, Manfaat Rutinkan Ibadah Sunnah saat Pagi Hari
Alasan Riba Haram, Jalan Pintas yang Bikin Hidup Bangkrut(asf)