Indonesia tak hanya menjadi negara dengan populasi penduduk muslim terbanyak di dunia. Indonesia juga memiliki banyak organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam dengan ragam corak mazhab fikih yang berbeda. Lalu, haruskah seorang muslim bergabung dengan ormas?
Menurut data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada tahun 2019, Indonesia menempati posisi ke-74 dalam kemampuan literasi dari 79 negara. Peneliti BRIN Ayom Widipaminto mengungkapkan cara meningkatkan literasi Indonesia.
Setiap muslim bermimpi memiliki kehidupan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Sebab itu menjadi bentuk nikmat yang Allah SWT berikan dalam membina keluarga.
Ketua Bidang Infokom MUI, KH Masduki Baidlowi mengatakan Islam wasathiyah harus dibungkus secara gaul. Artinya produk dakwah atau penyampaian narasi baik keagamaan harus sampai dan mudah diterima generasi muda.
Dengan slogan jihad fi sabilillah para ulama pesantren menjadi motor penggerak perjuangan, bersama-sama dengan rakyat berperang melawan belanda dan sekutu.
Salah satu modal para pendiri bangsa memperjuangkan kemerdekaan adalah intelektualitas dan literasi yang tinggi. Rata-rata, mereka merupakan pembaca buku yang aktif. Hal itu diungkapkan Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Suherman.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Ummat Islam (PUI), KH Nurhasan Zaidi mengatakan, Hari Pahlawan tak hanya sebagai momen untuk mengingat kembali jasa para pahlawan yang berjuang demi kemerdekaan.
Lembaga pendidikan agama seperti pesantren tidak hanya sekadar memberi pelajaran agama saja. Melainkan para santri juga dituntut visioner, artinya harus memahami permasalahan umat kedepannya.
Allah SWT memberi petunjuk bagi seluruh makhluk hidup ciptaan-Nya. Dan Allah mengatur segala urusan yang Dia ciptakan. Hal tersebut tertuang dalam penggalan surat An-Nur ayat 35:
Ada 4 alasan utama pentingnya menerapkan pendidikan Islam untuk anak-anak. Salah satunya karena pengetahuan agama disebut yang paling tinggi statusnya.
Ilmu agama adalah ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap muslim. Oleh karena itu, orang tua harus selalu menyempatkan diri belajar agama bersama keluarga di tengah kesibukan kerja. Terlebih bagi ayah atau suami yang menjadi pemimpin dalam bahtera rumah tangga.
Tidak sempurna keimanan seorang muslim jika tidak mencintai Nabi Muhammad SAW. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon, Buya Yahya, menjabarkan salah satu tanda seseorang mencintai Rasulullah SAW.
Tenaga Ahli Majelis Masyayikh, Abdul Waidi, mengatakan, keberadaan Undang-Undang No.18/2019 tentang Pesantren untuk mempertegas peran penting pesantren di tengah masyarakat.
Ustaz Budi sepakat dengan anggapan bahwa menjadi orang tua tidak memiliki sekolah. Namun, orang tua punya pengalaman saat menjadi anak-anak yang bisa dijadikan pembelajaran dalam mendidik anak.
Syaikh Khalid meminta agar setiap muslim tidak gampang membid'ahkan sesama muslim. Apalagi, jika hanya berbeda pandangan. Para ulama terdahulu pun banyak yang berbeda pendapat, tapi tidak sampai pada tahap mengkafirkan dan membid'ahkan.
Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Fathul Wahid, Ph.D, kondisi mutakhir di Indonesia paling tidak memunculkan dua isu besar pendidikan nasional. Pertama, terkait kualitas pendidikan yang buruk. Kedua, kesempatan atau pemerataan akses pendidikan.
Hasil presentasi tim peneliti telah terbit pada Jumat (4/11) melalui kanal YouTube IYSA Official. Lomba diikuti 614 tim peserta dari 32 negara di dunia, di antaranya dari Malaysia dan Thailand. Setiap tim peserta ini diharuskan memberikan presentasi.