Masjid keliling ini dirancang berbasis truk Hino besar dengan 10 roda. Truk ini dapat berubah menjadi ruang salat berukuran 48 meter persegi, yang dapat menampung hingga 50 jamaah.
Di tengah dunia yang sibuk mengejar kepentingan pribadi, itsar tampak seperti legenda. Padahal dalam Islam, mendahulukan orang lain adalah puncak iman sosial dan fondasi peradaban yang beradab.
Islam, kata Qardhawi, tidak berhenti di teori. Ia hidup dalam tindakan sederhana: menyapa, memberi, menjenguk. Di sanalah dakwah sejati berdenyuthangat, manusiawi, dan penuh kasih.
Diponegoro bukan hanya panglima perang, tapi sufi yang menulis doa di pengasingan. Dalam dirinya, jihad dan mistisisme berpadu, melahirkan bab baru tentang spiritualitas dan perlawanan.
Di balik citra pemberontaknya, Imam Bonjol menyimpan kisah spiritual tentang dzikir, tarekat, dan reformasi Islam. Dari Luhak Agam ke dunia Utsmani, sejarah Islam Nusantara menemukan akarnya.
Rasulullah SAW bersabda: iman belum sempurna tanpa cinta kepada sesama. Yusuf Qardhawi menjadikannya fondasi sosial Islam: membersihkan hati, menegakkan persaudaraan.
Dari bara perang di dataran tinggi Minangkabau, lahir semangat reformasi Islam yang mengguncang Nusantara. Dari Padri hingga madrasah, dari mistik ke rasionalitasdi sanalah ruang Muslim modern bertumbuh.
Di tengah dunia Islam yang kian terbelah oleh politik, tafsir, dan ambisi, pesan lama Rasulullah tentang ukhuwah kembali menggema: manusia bukan musuh bagi sesamanya, melainkan saudara seiman dan sekemanusiaan.
Di langgar kecil, seorang murid Jawi memulai hafalan. Tapi dari huruf-huruf itu, lahirlah dunia luas: Islam yang menautkan akal, dzikir, dan pencarian makna antara syariah dan hakikat.
Ia disebut wali yang melampaui agama, menolak ritual, dan menantang tatanan. Tiga abad kemudian, ajarannya masih menggema: tentang manusia, Tuhan, dan batas-batas yang terus dinegosiasikan.
Pesantren bukan warisan Arab, tapi hasil perjumpaan tarekat Syattariyyah, patronase keraton, dan semangat rakyat desa menuntut ilmu di luar istana. Dari situ lahir wajah Islam Jawa yang khas.
Menag Nasaruddin Umar menegaskan masjid harus jadi pusat kemandirian dan ekonomi umat. Kemenag dorong transformasi masjid lewat program MADADA Fest 2025.
Abad ke-18 menandai lahirnya pesantren: dari serambi masjid di bawah patronase raja, menjadi pondok independen tempat tarekat dan ilmu bertemu dalam satu ruang spiritual yang membumi.
Muhammadiyah menolak jadi organisasi fikih semata. Dengan semangat tajdid, gerakan ini menafsir Islam sebagai kekuatan budaya dan ilmu yang menumbuhkan peradaban.
Kini, tiga abad setelah itu, pertanyaan yang sama masih menggema: sejauh mana Islam di Nusantara masih menampung roh keterbukaan dan kebudayaan yang dulu menyambutnya?
Di Kajen, nama Mutamakkin bukan sekadar sejarah. Ia hidup di napas masyarakat: dalam doa, ritual, dan tutur rakyat. Tiga abad berlalu, ajarannya tetap menjadi jembatan antara syariat dan hakikat.
Di balik menara bata merah yang menjulang di jantung Kudus, hidup legenda seorang wali yang menautkan Islam dan Jawa. Mitos Sunan Kudus bukan sekadar kisah gaib, tapi bahasa kultural tentang harmoni dan identitas.
Sufisme bukan sekadar jalan batin di Jawa abad ke-18. Ia menjelma kekuatan politik yang memicu pengasingan, pemberontakan, dan kejatuhan Pakubuwana II ke pelukan Belanda.
Dari laporan pendeta Prancis abad ke-17, tampak jejak sufi Makassar yang menautkan tradisi lokal dan Timur Tengah. Dari masjid batu hingga tarekat Khalwatiyyah, Islam Nusantara menemukan bentuknya.