Kepastian tanggal Idulfitri sering kali menjadi sumbu perdebatan hukum. Benarkah mendahului otoritas dalam mengumumkan hari raya adalah sebuah keharaman, ataukah ia bagian dari ijtihad yang patut dihargai?
Lebaran di Indonesia tak lengkap tanpa halalbihalal. Namun, di balik keriuhan silaturahmi, tersimpan catatan kritis tentang batas kegembiraan yang dibolehkan dan reduksi makna maaf yang sering kali menjadi semu.
Menjelang Idulfitri, berjabat tangan seolah menjadi ritual wajib. Namun, di balik kehangatan silaturahmi, terdapat tuntunan presisi dari penduduk Yaman hingga etika satu tangan yang sering terabaikan.
Di balik hangatnya jabat tangan Idulfitri, tersimpan rambu-rambu syariat yang sering terabaikan. Dari larangan menyentuh nonmahram hingga bidah jabat tangan rutin pascashalat yang perlu diwaspadai.
Ketika imam hampir mengucap salam, sebagian jamaah baru saja merapatkan barisan. Di balik keterlambatan dua rakaat penuh, tersimpan perdebatan fikih antara mengqadha secara normal atau menganalogikannya dengan shalat Jumat.
Tertinggal satu rakaat dalam shalat Ied bukan sekadar soal menambah kekurangan. Di dalamnya terdapat perdebatan fikih tentang apakah rakaat yang didapati bersama imam adalah awal atau akhir shalat.
Bagi makmum masbuk dalam shalat Ied, perdebatan bukan sekadar soal jumlah takbir yang tertinggal, melainkan tentang prioritas antara menjalankan sunnah tambahan atau menyimak firman Tuhan.
Takbir tambahan dalam shalat Ied adalah syiar yang agung, namun sering kali jamaah datang saat imam telah usai bertakbir. Di balik keriuhan hari raya, tersimpan perdebatan fikih yang presisi mengenai nasib rakaat pertama sang masbuq.
Perbedaan awal puasa bukan sekadar persoalan teknis informasi, melainkan perdebatan teologis dan astronomis tentang mathla yang telah berlangsung selama empat belas abad dalam sejarah Islam.
Di tengah suasana Ramadhan yang sarat refleksi, sebuah pertanyaan besar mengemuka, apa sebenarnya makna kesejahteraan? Apakah sekadar angka statistik ekonomi, atau sesuatu yang lebih dalam dari itu?.
Umat Islam menggelontorkan dana fantastis hingga puluhan triliun rupiah setiap Idulfitri. Namun, alih-alih mengentaskan kemiskinan, dana tersebut kerap menguap dalam pusaran konsumerisme yang nirfaedah.
Idulfitri bukan sekadar garis finis ritual tahunan, melainkan transisi menuju istiqamah. Perayaan ini adalah bentuk ibadah melalui rasa syukur yang terukur, menjauh dari euforia hampa dan bidah.
Kebahagiaan Idulfitri sering kali tereduksi menjadi sekadar pamer sandang dan pangan. Padahal, esensi hari raya adalah perayaan atas kemenangan takwa dan ampunan dosa yang dicapai melalui peluh ibadah.
Islam memandang hari raya bukan sekadar ajang pesta, melainkan substitusi spiritual yang menggeser tradisi jahiliyah. Menjaga otentisitas Idul Fitri dan Idul Adha adalah upaya merawat prinsip akidah.
Idul Fitri kerap disalahpahami sebagai garis finis untuk bebas bermaksiat. Padahal, kegembiraan yang hakiki harus tetap bersandar pada koridor syariat, bukan perayaan foya-foya yang menghapus pahala.
Perjalanan spiritual Mahershala Ali dari lingkungan pendeta hingga menjadi mualaf peraih Oscar menunjukkan sisi humanis Islam. Baginya, Ramadhan adalah momentum memperkuat koneksi batin yang sempat sunyi.
Pemerintah telah lama mencanangkan visi Indonesia Emas 2045, sebuah cita-cita besar tentang Indonesia yang maju, berdaulat, adil, dan makmur. Tetapi pertanyaannya sederhana sekaligus berat, apakah cita-cita itu benar-benar bisa tercapai?
Fenomena judi dan pertaruhan yang menyasar anak-anak kerap membayangi perayaan Idul Fitri di sejumlah wilayah. Praktik ini dinilai sebagai kemungkaran besar yang menodai kesucian kemenangan spiritual.
Kegembiraan Idul Fitri kerap dicemari oleh pemborosan harta melalui petasan yang nirfaedah. Para ulama mengingatkan agar kelebihan materi dialihkan untuk membasuh air mata kaum papa dan yatim.