LANGIT7.ID, Jakarta - Abu Dzar Al-Ghifari merupakan
sahabat Rasulullah pada masa awal dakwah Islam di Mekkah. Dia merupakan sahabat yang terkenal memiliki kehidupan sederhana dan kritis terhadap orang kaya.
Dia berpandangan harta merupakan titipan Allah, hanya boleh diambil untuk sekadar memenuhi keperluan dan kebutuhan, tidak boleh lebih dari itu. Selain itu, dia berpendapat, Nabi Muhammad SAW hadir di muka bumi untuk memberi, bukan menerima.
Dalam buku
Karakteristik Hidup 60 Sahabat Rasulullah karya Khalid Muhammad Khalid, disebutkan, Abu Dzar berangkat ke Suriah untuk menerapkan prinsip hidup tersebut. Suriah dikenal sebagai daerah poros utama kekuasaan dan gudang raksasa kekayaan pada masa itu. Muawiyah bin Abu Sufyan menjadi gubernur Suriah kala itu.
Baca Juga: Yaumul Marhamah, Hari Kasih Sayang saat Rasulullah Bebaskan MekkahMenurut Tarikh Abul Fida dalam buku
The Great Companion of the Prophet (s) Abu Dharr, keberangkatan Abu Dzar ke Suriah terjadi pada tahun 30 Hijriyah. Di sana rakyat jelata menyambut kedatangannya dengan penuh harapan.
Masyarakat yang menyambutnya berkata, “Bicaralah wahai Abu Dzar! Bicaralah wahai sahabat Rasulullah!”. Abu Dzar melihat ke arah mereka, dan menemukan fakta memprihatinkan. Dia melihat mayoritas mereka adalah orang-orang miskin yang serba kekuarangan.
Abu Dzar lalu mengarahkan pandangan ke dataran agak tinggi yang tidak jauh dari sana. Dia melihat bangunan-bangunan tinggi megah yang menampilkan kemewahan. Dia berseru kepada orang-orang miskin itu:
Baca Juga: Teladan Keimanan Abu Bakar As-Shiddiq, Khalifah Pertama Umat Islam“Aku heran melihat orang yang tidak punya makanan di rumahnya, kenapa dia tidak mendatangi orang-orang itu dengan menghunus pedangnya!”
Namun seketika Abu Dzar teringat wasiat Rasulullah yang melarang untuk angkat senjata. Dia lalu tak menggunakan bahasa-bahasa yang bisa mengobarkan peperangan. Dia lalu mengajarkan orang-orang miskin itu tentang pemahaman-pemahaman dasar tentang Islam.
Dia memutuskan untuk terus berdakwah, membangunkan kesadaran orang-orang di negeri Islam. Abu Dzar bertekad membangun pemahaman di tengah-tengah umat Islam, sehingga dapat membatasi gerak dari para pembesar dan orang kaya agar tidak menyalahgunakan kekuasaan dan menumpuk harta kekayaan demi kepentingan pribadi.
Baca Juga: 3 Cara Terbaik Memulai Dagang, Contoh Abdurrahman bin AufMengutip laman
ganaislamika, Abu Dzar terus didatangani masyarakat sekitar untuk mendengarkan tausiah. Suatu dia berkata:
“Wahai kaum bangsawan! Wahai Muawiyah dan pemerintahannya! Bersimpatilah dengan orang miskin. Biarkan mereka yang mengumpulkan emas dan perak dan tidak menggunakannya di jalan Allah, ketahuilah bahwa dahi, sisi, dan punggung mereka akan disetrika dengan api.
Wahai penimbun kekayaan! Tidaklah kamu tahu bahwa ketika seseorang meninggal, semuanya akan terpisah darinya. Hanya tiga hal yang tersisa untuknya, amal jariyah, pengetahuan yang bermanfaat, dan anak yang saleh yang berdoa untuknya.”
Baca Juga: Belajar dari Halimah As-Sa'diyah, Keberkahan Rawat Anak YatimHanya beberapa di Suriah, masyarakat di sana seolah berubah menjadi sel-sel lebah yang menemukan ratu untuk ditaati. Tarikh Abul Fida mengatakan, andai Abu Dzar memberikan isyarat untuk memberontak, niscaya api pemberontakan akan berkobar di Suriah. Namun, hal itu tidak dilakukan. Dia hanya sebatas membangun pemahaman dan kesadaran bagi umat Islam.
Golongan orang kaya Suriah mulai merasa terganggu dengan Abu Dzar. Suatu hari Habib bin Muslimah Fahri menyaksikan orang-orang berkumpul dan mendengarkan ceramah Abu Dzar. Dia berkesimpulan, “Ini adalah gangguan besar”.
Dia segera pergi menemui Muawiyah dan berkata, “Wahai Muawiyah! Abu Dzar benar-benar akan mengacaukan pemerintah Suriah. Jika engkau membutuhkan Suriah, engkau harus menghentikan gangguan ini sejak awal”.
Baca Juga: Kisah Halimah As-Sa'diyah, Rasakan Berkah karena Susui Nabi SAWSeruan Abu Dzar terus menggema. Muawiyah merasa gerah. Dia lalu memanggil Abu Dzar untuk berdialog. Dialog itu dihadiri beberapa kalangan sahabat. Tanpa rasa gentar dan basa-basi, dia menanyakan kekayaan Muawiyah sebelum dan sesudah menjadi pejabat. Dia mempertanyakan tentang rumah Muawiyah dulu di Mekkah dan membandingkan dengan istana megahnya di Suriah.
Abu Dzar juga bertanya kepada sahabat-sahabat yang duduk di sekeliling Muawiyah mengenai bangunan-bangunan mewah dan lahan pertanian luas yang mereka miliki di Suriah. Lalu, dia berseru:
“Apakah tuan-tuan yang sewaktu Quran diturunkan kepada Rasulullah, dia (harta kekayaan) berada di lingkungan tuan-tuan?” sebelum sempat dijawab, Abu Dzar berbicara lagi, “Benar, kepada tuan-tuanlah Al-Qur’an diturunkan, dan tuan-tuanlah yang telah mengalami sendiri berbagai peperangan!”
Baca Juga: Mush'ab bin Umair, Duta Islam Pertama Pilihan Rasulullah SAWAbu Dzar lalu membacakan Surah At-Taubah ayat 34 sampai ayat 35. Secara umum, ayat tersebut bericara tentang orang-orang yang tidak menginfakkan harta di jalan Allah, kelak akan mendapatkan siksaan pedih di hari kiamat.
Muawiyah lalu memotong pembicaraan Abu Dzar, “Ayat ini diturunkan kepada ahlul kitab!”. “Tidak!” seru Abu Dzar. “Bahkan dia (Surah At-Taubah: 34-35) diturunkan kepada kita dan kepada mereka!”
Abu Dzar melanjutkan lalu menasihati Muawiyah dan para pengikutnya agar segera melepaskan bangunan-bangunan mewah, tanah, serta harta kekayaan mereka dan tidak menyimpan untuk diri sendiri kecuali untuk sekadar keperluan sehari-hari.
Baca Juga: Hikmah dari Sahabat Rasulullah yang Buta, Pantang Salat di RumahBerita mengenai tanya-jawab Abu Dzar dengan Muawiyah itu segera tersebar dari mulut ke mulut. Semboyannya semakin nyaring terdengar di rumah-rumah dan di jalan-jalan, “Sampaikanlah kepada para penumpuk harta akan setrika-setrika api neraka!” revoluasi seolah terasa semakin dekat.
Muawiyah sadar akan adanya bahaya itu. Dia cemas akan akibat ucapan Abu Dzar. Namun, dia paham akan pengaruh dan kedudukan yang dimiliki Abu Dzar, sehingga dia tak bisa menyakitinya. Dengan segera menulis surat kepada Khalifah Utsman bin Affan, “Abu Dzar telah merusak orang-orang Suriah”.
Sebagai respons terhadap surat pengaduan itu, Utsman mengirim surat meminta Abu Dzar menghadapnya di Madinah. Abu Dzar tak menolak. Dia berkemas dan berangkat ke Madinah. Pada hari keberangkatannya, dia diantar oleh khalayak ramai yang mengucapkan selamat jalan. Ini merupakan suatu peristiwa yang belum belum pernah disaksikan sebelumnya.
(jqf)