Piala Dunia 2022 di Qatar diwarnai kritik dari negara-negara Barat pro LGBT. Qatar yang merupakan negara muslim sebagai tuan rumah melarang adanya simbol-simbol LGBT. Lalu mengapa negara barat ngotot promosikan LGBT meski di negara muslim?.
Majelis Rendah Parlemen Rusia (State Duma) menyetujui secara bulat rancangan undang-undang (RUU) yang melarang promosi Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) kepada semua orang dari semua usia pada Kamis (24/11/2022).
Swiss termasuk salah satu dari tujuh tim Eropa yang awalnya berencana mengenakan ban lengan pelangi untuk mendukung hak LGBT sepanjang turnamen di Qatar. Namun, homoseksualitas adalah ilegal, dan Xhaka menghormati aturan tersebut.
Laga Wales Vs Iran Jumat (25/11/2022) sore di Ahmad Bin Ali Stadium bakal diwarnai atribut Pelangi. Federasi sepak bola Wales menyatakan FIFA telah menjamin penggunaan simbol-simbol yang mendukung hak-hak LGBT diperbolehkan masuk stadion.
Kapten Prancis Hugo Lloris telah mengisyaratkan tidak akan mengenakan ban lengan berwarna pelangi untuk mendukung kampanye melawan diskriminasi LGBT pada ajang Piala Dunia 2022
Orkun Kokcu menyatakan alasannya menolak memakai ban kapten pelangi karena ajaran agamanya, Islam melarang LGBT. Namun, gelandang Turki mengatakan bahwa setiap orang berhak membuat keputusan.
Para pendukung LGBT sering menggunakan terminologi khuntsa dalam Islam untuk mendukung gagasan transgender. Padahal khuntsa dan transgender sangat berbeda.
Negara-negara Teluk Arab menuntut layanan streaming Netflix agar menghapus konten ofensif atau yang bertentangan dengan nilai dan prinsip Islam dalam masyarakat.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, KH Yahya Zainul Ma'arif alias Buya Yahya, menanggapi konsep gender netral atau gender non biner yang marak akhir-akhir ini.
Ustaz Jeje menyatakan rasa prihatin karena LGBT disepakati dunia internasional sebagai penyimpangan orentasi seksual yang harus diobati. Kemudian berubah menjadi bagian dari HAM.
Khatib Jumat dapat menyampaikan tentang bahaya pemikiran dan perilaku LGBT. Berikut tujuh tema khutbah Jumat tentang bahaya dan dampak LGBT yang bisa khatib bawakan kepada jamaah:
Direktur The Center for Gender Studies (CGS), Dr. Dinar Dewi Kania, istilah gender non-biner sebenarnya lebih mengarah kepada doktrin yang dipengaruhi pemikiran feminis dan kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender dan Queer (LGBTQ).