Kedermawanan Rasulullah pada bulan Ramadhan melampaui logika kecukupan materi. Ibarat angin yang berembus cepat, beliau membagikan kebaikan tanpa rasa takut akan kekurangan sedikit pun.
Iktikaf bukan sekadar ritual berdiam diri di masjid. Bagi Rasulullah, sepuluh malam terakhir adalah puncak dialektika ruhani yang puncaknya berlipat ganda menjadi dua puluh hari menjelang kewafatan beliau.
Dalam mimbar Ramadhan Public Lecture yang menghadirkan Wakil Ketua KPK RI, Ibnu Basuki Widodo pada Kamis (26/2/2026) mengulik tentang diskursus krusial mengenai masa depan integritas bangsa.
Sepuluh malam terakhir bukan waktu untuk kendur. Rasulullah memberikan teladan tentang peningkatan intensitas ibadah dan isolasi spiritual demi mengejar kemuliaan Lailatul Qadar.
Islam bukan agama yang memberatkan hamba-Nya. Melalui dispensasi bagi musafir, orang sakit, hingga ibu menyusui, Rasulullah menunjukkan bahwa keselamatan nyawa berada di atas formalitas ritual.
Rasulullah mengajarkan bahwa puasa bukan alasan untuk lemah. Dalam palagan jihad, beliau memerintahkan sahabat membatalkan puasa demi menjaga stamina fisik sebagai bentuk ketaatan yang lebih tinggi.
Media sosial baru-baru ini dihebohkan video viral yang memperlihatkan paket iftar di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi yang berisi uang tunai dalam pecahan 50, 100, hingga 500 Riyal Saudi (SAR).
Khutbah Ustaz Sukma Wijaya di Masjid Baitul Hilmi mengulas esensi Lish-shaaimi Farhatanidua kebahagiaan bagi orang berpuasa. Simak makna mendalam rasa syukur saat berbuka dan perjumpaan dengan Sang Pencipta.
Kareem Abdul Jabbar mengenang puasa pertamanya sebagai ujian fisik dan mental yang berat di tengah kompetisi basket Amerika Serikat. Baginya, Ramadhan adalah latihan kedisiplinan dan kejujuran diri.
Tindakan Rasulullah melakukan bekam saat berpuasa menjadi oase diskusi fikih yang dinamis. Keputusan tersebut menegaskan prinsip kemudahan dalam syariat serta menggugurkan ketetapan lama yang melarangnya.
Bersiwak bukan sekadar urusan sanitasi mulut, melainkan manifestasi ketaatan yang tak terputus. Rasulullah menjadikannya rutinitas utama, bahkan saat puasa, sebagai jalan menjemput keridaan Allah.
Dalam mimbar Ramadhan Public Lecture bertajuk Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat Melalui Kebijakan Publik yang Berkeadilan, Anggota DPD RI, Ahmad Syauqi Soeratno, membedah siklus kebijakan dengan napas spiritualitas juga intelektualitas.
Ramadhan bagi Rasulullah bukan sekadar pengabdian vertikal kepada Tuhan, melainkan momentum mempererat kasih sayang domestik. Puasa tidak menjadi penghalang bagi kelembutan muamalah terhadap istri.
Ibadah puasa bukan sekadar memindahkan jam makan, melainkan proyek besar pembersihan akhlak. Rasulullah memperingatkan bahwa tanpa kejujuran, puasa hanyalah tindakan menahan dahaga yang sia-sia.
Rasulullah meletakkan garis keseimbangan dalam ibadah puasa melalui pengaturan waktu makan. Menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur bukan sekadar teknis, melainkan simbol kebaikan umat.
Ramadhan adalah momen pembakaran dosa dan bulan dikabulkannya doa (Syahrul Ijabah) selama 24 jam. Simak tiga doa utama yang wajib diamalkan menurut Ustaz KH. Zainudin Nur.
Ekonomi Ramadan harus dimaknai sebagai momentum redistribusi kekayaan melalui zakat dan sedekah, bukan sekadar siklus konsumsi musiman yang memicu inflasi dan gaya hidup hedonistik di masyarakat.
Menetapkan niat sebelum fajar menjadi syarat mutlak puasa wajib, namun Rasulullah memberikan kelonggaran hingga fajar shadiq benar-benar menyingsing. Sebuah potret moderasi yang menepis sikap ekstrem.
Bintang sepak bola Prancis Franck Ribery menyebut ibadah puasa bukan beban fisik melainkan sumber energi jiwa. Pengalaman pertamanya menjadi bukti bahwa keyakinan mampu melampaui batas stamina atlet.
Ramadhan adalah momentum untuk menjadi lebih baik dalam banyak hal. Tidak hanya sebagai bagian dari beribadah kepada Allah, tapi juga bagian dari membangun kerukunan, membangun persatuan khususnya ukuwah Islamiah, serta persatuan bangsa atau ukuwah wathaniah.