LANGIT7.ID - , Jakarta - Sepanjang
sejarah hidup Rasulullah beberapa kali mengalami
fitnah. Tudingan negatif yang diterima karena masyarakat saat itu terusik dan menggagalkan dakwah Nabi Muhammad
shalallahu alaihi wasallam. Bahkan, pendakwah
Ustaz Abdurrahman Al Habsyi menyebut ini dapat dikatakan sebagai fitnah terberat Rasulullah SAW.
Adapun fitnah itu ketika
Rasulullah SAW harus bersinggungan dengan para tokoh munafik di Madinah. Kala itu mereka menyatakan keimanannya di hadapan Rasulullah tetapi di belakangnya, mereka melakukan konspirasi-konspirasi jahat.
Baca juga: Cara Seorang Muslim Hadapi Fitnah, Pertebal Iman dan Perkuat AmalMereka juga sering bersepakat dengan pihak-pihak musuh hingga akhirnya Allah SWT mengabarkan kepada Rasul tentang karakteristik orang-orang munafik tersebut, melalui surat Al-Munafiqun yang terdiri dari 11 ayat.
"Agak kesulitan awal-awalnya Nabi menghadapi orang-orang munafik tersebut karena mereka menyatakan keislaman, mereka bersyahadat, ikut salat bersama Rasul dan sahabatnya. Tetapi di lain kesempatan mereka ternyata menjadi musuh dalam selimut. Inilah fitnah terberat yang dialami oleh Rasulullah SAW," ujar Ustaz Rahman kepada Langit7, Kamis (17/11/2022).
"Dan ternyata hal tersebut berkesinambungan hingga saat ini. Ujian terberat kaum muslimin saat ini adalah ketika kita berhadapan dengan saudara kita sesama kaum muslimin," lanjut dia.
Lantas, bagaimana Rasulullah SAW mengatasi hal demikian?
Ustaz Rahman menjelaskan, Rasulullah SAW mengatasi fitnah yang dialami dengan cara mengabarkan kepada para sahabat untuk mewaspadai mereka. Sebab dalam Islam kaum muslimin tidak diperintahkan untuk memerangi
orang-orang munafik.
Baca juga: Tafsir Al-Baqarah Ayat 217: Makna Fitnah Lebih Kejam dari PembunuhanSebab, orang-orang munafik itu juga bersyahadat, melaksanakan salat dan lainnya. Allah SWT menjelaskan dalam surat An-Nisa ayat 142,
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى
الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا
قَلِيْلًاۖ
Artinya, "Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali." (QS. An-Nisa: 142).
Padahal sejatinya mereka sendiri yang tertipu dan Allah menjelaskan tentang tiga karakter mereka dalam surat tersebut.
"Pertama, mereka salat, tetapi tipologinya salat sambil malas-malasan. Tidak serius, dan tidak fokus. Kedua, mereka banyak melakukan kebaikan, sedekah, dan berbagi. Tetapi perilaku amal saleh yang mereka kerjakan nuansanya ingin dilihat, dipuji, dan disanjung. Jadi penuh dengan kepalsuan, kemudian penuh dengan pencitraan," ucapnya.
Baca juga: Hati-Hati, Berbohong Ternyata Mengakibatkan Penyakit"Ketiga, mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit. Jadi mereka juga berzikir, tetapi zikir mereka cuma sedikit tidak sama dengan hamba-hamba Allah yang beriman yang setiap saat berusaha untuk merangkai ingatannya kepada Allah SWT," imbuh Ustaz
(est)