Perlambatan investasi di sektor teknologi finansial (fintech) dinilai wajar akibat ketidakpastian perekonomian global imbasa konflik geopolitik dan inflasi.
Krisis ekonomi yang melanda dunia saat ini mirip dengan kisah krisis di zaman Nabi Yusuf. Kondisi ini diprediksi dari mimpi raja sehingga ada upaya berhemat.
Ancaman resesi 2023 menambah panjang penderitaan perekonomian global. Pasalnya, dunia baru saja memasuki tahap pemulihan ekonomi usai pandemi Covid-19.
Stagflasi disebut bakal menghantui perekonomian global di tahun 2023. Kondisi itu akan berdampak pada berbagai kegiatan usaha di sektor riil atau keuangan.
Alasan ini didasari oleh properti sebagai kebutuhan pokok masyarakat, sehingga kebutuhan masyarakat terhadap properti akan tetap meningkat. Peningkatan kebutuhan terhadap hunian tiap tahunnya mempengaruhi pula pertumbuhan kapasitas backlog hunian.
Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan warga dunia tidak menyepelekan situasi global saat ini. Sebab dikhawatirkan memicu perang dunia.
Meski demikian, Jokowi mengingatkan terhadap situasi ekonomi di dunia tidak berada dalam kondisi baik. Kondisi perekonomian global saat ini sangat tinggi hingga berimbas ke seluruh negara termasuk Indonesia
Erick Thohir mengatakan, di tahun 2030 mendatang Indonesia negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Yaitu mencapai 40 persen dari total ekonomi digital di antara negara-negara ASEAN lainnya.
Ketidakpastian harga komoditas minyak global berdampak pada perekonomian Indonesia hingga harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pun kembali naik meskipun subsidi diberikan sangat besar.
IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi global melambat signifikan dari 6,1 persen di tahun 2021 menjadi 3,2 persen di tahun 2022 dan menjadi 2,9 persen di tahun 2023.
Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar mengatakan pihaknya percaya diri mampu membangun sinergi secara utuh dengan berbagai pihak dalam mengembangkan perekonomian Tanah Air.