Tidak ada perselisihan di antara para ulama tentang kekafiran orang yang mencela Aisyah setelah turunnya ayat pembebasan dalam surat An-Nur, tulis Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya.
Dalam kehidupan ini, mukjizat adalah tanda kuasa Allah yang diberikan kepada para nabi atau peristiwa luar biasa yang menunjukkan kebenaran suatu ajaran.
Narasi kelompok Syiah ekstrem kerap memotret hubungan antara Abu Bakar dan Ahlul Bait sebagai penuh kebencian dan saling curiga. Namun, riwayat sahih justru menampik dugaan tersebut.
Rasulullah pernah mengisahkan sebuah peristiwa yang menakjubkan tentang seorang wanita pezina dari Bani Israil yang telah bergelimang dosa sepanjang hidupnya. Namun justru dari tangannya, Allah bukakan pintu surga.
Di antara ayat yang menjadi rujukan utama adalah QS Al-Hasyr: 10. Ayat ini tidak hanya menegaskan doa untuk para Sahabat, tetapi juga perintah untuk tidak menaruh ghill (kedengkian) terhadap mereka.
Muawiyah tak hanya mewarisi kekuasaan, tapi juga mengukir tafsir atas takdir. Doa Nabi yang ia sebarkan menjadi dasar narasi: bahwa segala yang terjadi, termasuk kekuasaan dan penindasan, semata-mata kehendak Tuhan.
Kisah ini mengajarkan bahwa pintu ampunan Allah sangatlah luas. Dosa seseorang, seberapa pun kelamnya, bisa diampuni karena satu tindakan tulus yang menyentuh langit.
Kecurigaan ulama tidak datang tanpa sebab. Munculnya Ahmadiyah di Qadian, India, pada akhir abad ke-19, menciptakan simpul kontradiktif dalam sejarah reformasi Islam modern.
Kini, ratusan tahun setelah peristiwa itu berlalu, bait syair perempuan hitam itu tetap menggema sebagai pelajaran tentang iman, kesabaran, dan keajaiban ilahi: Hari selendang adalah tanda keajaiban Tuhan kita...
Kepemimpinan dalam Islam, sebagaimana dipahami para ulama klasik, bukan sekadar jabatan administratif. Ia adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Dalam konteks ini, hadits ahad yang shahih sekalipun memiliki bobot wajib untuk diterima dan diamalkan. Ini bukan bentuk kekakuan, tetapi kepatuhan pada wahyu sebagai sumber kebenaran mutlak.
Jika Nabi Muhammad SAWmanusia terbaik dan paling dekat kepada Allahmasih mendirikan shalat hingga ajal menjemput, bagaimana mungkin ada manusia biasa yang merasa dirinya tak perlu lagi beribadah?
Tanpa menyinggung atau membantah secara langsung, Abu Nawas mengarahkan sang raja pada pemahaman yang benar melalui humor. Ia tidak mempermalukan, tetapi menyadarkan dengan cara yang menyenangkan.
Salah satu penyebab perbedaan adalah perbedaan informasi yang sampai ke masing-masing ulama. Tidak semua hadits atau ayat yang berkaitan dengan satu masalah diketahui secara menyeluruh oleh setiap mujtahid.
Rakyat lebih mencintai Abu Nawas ketimbang rajanya sendiri. Ini menggambarkan bahwa kejujuran, kecerdasan, dan kebaikan hati lebih dihargai oleh masyarakat ketimbang kekuasaan semata.