Al-Quran menegaskan manusia memiliki dua potensi: kebajikan dan keburukan. Namun fitrah awalnya cenderung pada kebaikan. Para mufasir, filosof, dan psikolog mengulas bagaimana akhlak terbentuk dan ke mana ia bisa dibelokkan.
LTM PBNU menegaskan pentingnya peningkatan standar layanan dan transparansi di masjid. Mahdum menyoroti peran imam, takmir, dan marbot sebagai kunci kepercayaan jamaah, termasuk pengelolaan zakat yang terbuka dan pembenahan fasilitas demi masjid yang berdaya dan berdampak.
Renungan menyentuh tentang cepatnya perubahan waktu dan hikmah ilahi di balik setiap peristiwa. Kisah Firaun, Namrud, Bilal, hingga Nabi Muhammad saw mengingatkan bahwa takdir Allah selalu bekerja, menguatkan hati agar tidak putus asa.
Nikmat terlalu banyak untuk dihitung. Tapi Al-Quran merinci apa saja yang wajib disyukuri: dari hidup hingga kemerdekaan. Syukur adalah kesadaran tentang siapa manusia dan siapa Tuhan.
Syukur tak mengenal jam atau ruang. Al-Quran menunjukkan: pagi, petang, lapang, sempit. Dunia hingga akhirat. Bersyukur adalah keadaan batin yang terus hidup, tak berhenti pada nikmat semata.
Kekalahan armada Bizantium dari pasukan Muslim mengguncang Laut Tengah. Lari ke Sisilia, jenderal Konstantin justru dibunuh rakyatnya sendiri. Sejarah mencatat bagaimana kekuasaan direbut rasa takut.
Al-Quran menegaskan hanya sedikit manusia yang mampu bersyukur. Di ruang batin setiap orang, syukur adalah perjuangan menuju martabat hamba yang mengenali dirinya dan Tuhannya.
Ketika kekayaan membuat manusia merasa berjasa atas segala keberhasilan, lalu menurunkan empati sosial. Para ilmuwan menyebutnya Qarun effect, sebuah gejala psikologis yang telah dikisahkan Al-Quran sejak ribuan tahun lalu.
Di Milad Muhammadiyah ke-113 yang diselenggarakan PWM DKI Jakarta, Abdul Muti mengajak jamaah meninjau kembali siapa manusia dalam pandangan Al-Quran: jasad, akal, dan martabat yang harus bertumbuh serempak di tengah tantangan zaman.
Perayaan Milad ke-113 Muhammadiyah yang digelar Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta dipadati ribuan warga. Lebih dari dua ribu kursi yang disediakan panitia terisi penuh sejak pukul enam pagi.
Mengapa ilmu harus ditulis? Kata Imam Syafii, tulisan adalah ikatan ilmu. Para ulama seperti Ibnu Hajar dan Al-Khatib al-Baghdadi menegaskan bahwa mencatat adalah ibadah yang menjaga ilmu agar tidak hilang. Bahkan Einstein menekankan pentingnya menulis untuk mengingat.
Kekayaannya tak tertandingi. Namun Qarun tenggelam bukan karena hartanya, melainkan cara ia memaknai nikmat. Al-Quran menuturkan tragedi seorang konglomerat Bani Israil yang ambruk oleh kesombongannya sendiri.
Syukur bukan sekadar kata alhamdulillah. Quraish Shihab membaginya jadi tiga laku yang saling terkait: batin, ucapan, dan tindakan. Dari Al-Quran hingga riset psikologi modern, syukur ternyata kerja panjang manusia.
Al-Quran menegaskan: syukur tak menambah apa pun bagi Tuhan. Lalu kepada siapa kembali manfaat syukur? Para mufasir hingga psikolog modern menemukan jawabannya pada manusia itu sendiri.
Di bawah kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan, pasukan Muslim untuk pertama kali menantang dominasi Bizantium di laut. Dalam gelombang yang memerah, lahirlah era baru: Islam sebagai kekuatan maritim.
Syukur bukan sekadar ucapan terima kasih atau lega saat selamat dari bahaya. Dalam Al-Quran, ia adalah kesadaran menampakkan nikmat dan menggunakannya secara tepat: kunci bertambahnya karunia.
Di tengah kesalahpahaman bahwa nikah hanyalah untuk pemenuhan syahwat dan regenerasi, Al-Quran menegaskan ikatan itu lebih luhur: ketenteraman, mawaddah, rahmah, dan mandat membangun peradaban.
Temukan makna rezeki yang datang tepat pada waktunya melalui renungan penuh ketenangan ini. Artikel ini mengingatkan bahwa rezeki tidak selalu berupa materi, namun bisa hadir sebagai kesehatan, ketenangan hati, dan pertolongan Allah dari arah yang tak disangka. Bacaan malam yang menenangkan dan menyentuh hati.
Islam adalah agama yang turun untuk memudahkan umat manusia. Salah satu buktinya yaitu kemudahan dalam beribadah. Kemudahan beribadah diterangkan dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 185.
Ia memimpin laut tanpa kehilangan satu kapal pun. Doanya menjaga pasukan, namun maut datang saat ia sendirian. Sejarah mencatat Abdullah bin Qais sebagai laksamana pertama Islam yang gugur jauh dari medan perang.