Di balik riuh perang kolonial, dakwah Islam di Nusantara bukan sekadar ibadah, tetapi bara perlawanan yang menyatukan umat, menguatkan iman, dan menyalakan api kemerdekaan.
Pandangan ini semakin relevan ketika korupsi dianggap bukan lagi kejahatan biasa, melainkan kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang merusak sendi-sendi negara.
Perdebatan rajam bagi pezina tetap menarik untuk dibahas. Hukuman lempar batu hingga mati ini disanjung fikih klasik, tapi benarkah ia pantas hidup di negeri Pancasila yang menjunjung HAM dan konstitusi modern?
Di tengah riuh dunia modern yang kehilangan jiwa, suara sunyi para sufi kembali menggema. Mereka menawarkan jalan marifat, bukan sekadar kata-kata indah yang kini jadi kutipan di media sosial.
Ayat itu bukan sekadar peringatan, melainkan vonis teologis: mereka yang berani mengada-ada atas nama Tuhan, boleh jadi mendapat sedikit kesenangan dunia, tapi kesudahannya hanya siksa dan kehinaan.
Menyimpan masa lalu atau mengungkapkannya pada calon pasangan kerap jadi dilema. Bagi sebagian orang, kejujuran berarti membuka segalanya, tapi Islam justru mengajarkan kehati-hatian.
Mayoritas ulama, mulai dari kalangan fuqaha klasik hingga otoritas kontemporer, cenderung memberi ruang. Syaratnya: pelaku zina benar-benar bertobat dengan taubat nasuha.
Beberapa riwayat larangan membaca Al-Quran bagi perempuan haid dan orang junub ternyata lemah bahkan palsu. Dalil sahih justru membolehkan, menegaskan ibadah tetap terbuka bagi semua.
Pendaratan manusia di bulan digadang-gadang bukti sains dalam Al-Quran. Al-Utsaimin menegaskan: memaksakan tafsir ilmiah justru berisiko menodai kesucian wahyu.
Istiwa Allah di atas Arasy memicu perdebatan tak berujung: tafsir lahiriah atau hakikat ghaib? Dari Imam Malik hingga Ibnu Taimiyah, akal dan wahyu terus diuji.
Pernyataan itu seolah mengafirmasi apa yang sudah lama disaksikan: betapapun keduanya sering menegaskan diri sebagai gerakan dakwah dan pendidikan, pengaruh politik Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama nyaris tak terhindarkan.
Sufisme kerap tampil sebagai eksotisme: deretan wirid, musik mistik, atau simbol romantik Timur. Namun Idries Shah mengingatkan, Sufi sejati adalah jalan marifat, bukan sekadar tontonan budaya.
Perempuan sejak awal Islam bukan sekadar pengikut, tapi penjaga ilmu. Dari Aisyah hingga Rabiah, mereka jadi cahaya peradaban, meski sejarah kerap menyingkirkan peran besar mereka.
Idries Shah mengkritik kajian akademik tentang tasawuf yang terjebak teori asal-usul. Baginya, Sufisme bukan sekadar teks, melainkan jalan pengalaman spiritual yang hidup.
Di tengah maraknya amalan sunnah, sering terlupa fondasi agama: fardhu. Yusuf al-Qardhawi lewat Fiqh Prioritas mengingatkan, jangan sibuk di pinggiran hingga lalai pada kewajiban utama.
Sejarah memperlihatkan beragam warnahitam, putih, hijaubergiliran mengibarkan panji kekuasaan umat Islam. Tafsir tunggal justru mengabaikan pluralitas simbol yang kaya makna.
Dalam kajian orientalisme, nama besar seperti Miguel Asn Palacios atau Louis Massignon telah sejak awal abad ke-20 menunjukkan jejak Sufi dalam filsafat dan teologi Eropa.
Ada pula yang menganggap menjauhi dunia adalah ibadah tertinggi. Namun bagi al-Qardhawi, Islam tidak mendorong umatnya menjadi rahib. Justru sebaliknya, Nabi Muhammad menolak sikap mengucilkan diri dari masyarakat.