Ulama berbeda pendapat soal hukum demonstrasi. Ada yang menilainya jihad damai, ada pula yang menyebutnya sumber fitnah. Bagaimana fiqh memandang aksi protes di jalanan?
Di tengah menguatnya isu persatuan umat Islam global, muncul pertanyaan lama: haruskah umat berada dalam satu negara? Atau cukup dengan nilai persatuan tanpa bentuk politik tunggal?
Persatuan, bahasa, dan keturunan kerap disebut sebagai pilar kebangsaan. Tapi, apakah ketiganya sejalan dengan ajaran Al-Quran? Sebuah tinjauan dari tafsir klasik hingga pemikir kontemporer.
Di balik atap masjid bergaya kuil, umat Islam di Tiongkok berjuang mempertahankan iman. Dari Dinasti Ming hingga era Xi, sejarah mereka adalah kisah adaptasi dan perlawanan senyap.
Sejak lahir, Islam dan komunisme berdiri di kutub berbeda. Satu menegakkan hukum ilahi, satunya meniadakan iman. Apakah persimpangan perjuangan masih mungkin terjadi?
Lahir dari perlawanan terhadap kolonialisme, pan-Islamisme menjelma jadi alat soft power. Dari Al-Manar ke Twitter, gagasan persatuan umat terus berganti wajah, tapi menyimpan paradoks yang sama.
Dari lorong sunyi Khurasan, Bayazid melontarkan kata-kata yang menggetarkan: Subhani! Seruan yang membuatnya dipuja para pencari Tuhan, tapi juga dikecam sebagai penyimpang.
Syariah sering dimaknai formal dan kaku. Tasawuf hadir sebagai koreksi batiniah. Bisakah keduanya bersinergi di era modern, ketika spiritualitas dan etika publik kembali dipertaruhkan?
Paham kebangsaan bukanlah konsep yang lahir bersama teks-teks suci. Ia datang belakangan, hasil pergulatan politik modern. Lantas, bagaimana Islam menanggapi konsep yang berakar di Eropa ini?
Mereka mengimani wahyu, mengakui para nabi, dan percaya kehidupan akhirat. Tapi ketika Rasul terakhir datang, keyakinan itu berubah menjadi jarak. Al-Quran menamai mereka Ahli Kitab.
Di lereng Aqabah, dua perempuan berdiri sejajar dengan 73 laki-laki, mengikrarkan baiat yang mengubah sejarah. Momen ini bukan sekadar ritual, tapi pengakuan sosial dan spiritual terhadap martabat perempuan.
Sejak awal abad ke-20, Islam dan komunisme bersaing memperebutkan ruang ideologis di Nusantara. Persaingan ini bukan sekadar doktrin, melainkan juga perebutan pengaruh politik.
Hijrah bukan hanya kisah lelaki. Dari Ummu Kultsum hingga Asma binti Abu Bakar, sejarah mencatat perempuan yang meninggalkan segalanya demi iman, menantang adat dan kekuasaan Quraisy.
Seorang lelaki tua bernama Dhamrah bin Jundub memilih meninggalkan Makkah demi hijrah, meski sakit dan renta. Di tengah padang pasir, ajal menjemputnya, namun Allah menulisnya sebagai muhajir sejati.
Jadwal puasa Yaumul Bidh September 2025 jatuh pada 6, 7, dan 8 September. Simak bacaan niat serta keutamaan puasa sunnah pertengahan bulan Hijriyah untuk menambah pahala dan menenangkan hati.
Seabad setelah Khilafah runtuh, umat Islam masih gamang: modernisasi atau westernisasi? Muhammad Asad mengingatkan, tiruan buta pada Barat bisa mengikis roh peradaban Islam.
Fenomena syirik tak punah, hanya berganti wajah. Dari berhala batu menjadi uang, kekuasaan, hingga ideologi modern. Qardhawi mengingatkan, tauhid tetap pertaruhan terbesar umat.
Di tengah riuh perdebatan identitas, satu kata kembali disorot: umat. Kata yang tampak sederhana, tetapi menyimpan kedalaman makna yang tak habis ditafsirkan.