Di kota-kota besar hingga kampung terpencil, perempuan Muslim Indonesia bergerak di ruang sosial baru. Aktivitas mereka menyeberangi batas tradisi, agama, dan modernitas, sambil mempertanyakan ulang peran yang diwariskan.
Di ruang-ruang kelas, komunitas digital, hingga forum tafsir, perempuan Indonesia menghidupkan kembali kisah-kisah perempuan Qurani sambil menegosiasikan identitas modern yang bergerak di antara tradisi, teknologi, dan kesetaraan.
Di balik narasi besar sejarah Islam, perempuan pada masa Nabi bukan hanya pendamping, tetapi penggerak: pengasuh, pelindung, pedagang, mediator politik, hingga perawi ilmu yang membentuk fondasi peradaban.
Pertanyaan tentang asal-usul Nabi Muhammad kembali mengemuka. Qardhawi menimbangnya dengan pisau hadis dan akal sehat: kemuliaan Nabi tak lahir dari mitos penciptaan, melainkan dari akhlak dan risalahnya.
Ketegangan sosial di awal ekspansi Islam merayap tanpa terpantau. Umar fokus pada penaklukan dan konsolidasi, sementara bibit-bibit fitnah bersemi di bawah permukaan, meletup di masa Utsman.
Di masa Utsman bin Affan, ekspansi cepat Islam memantik resistensi baru: bangsa-bangsa taklukan membaca kebangkitan Arab sebagai dominasi. Sentimen itu ikut menggerakkan pusaran politik yang berakhir tragis.
Jejak Dzulqarnain kembali muncul dalam perbincangan klasik lewat tafsir Yusuf al-Qardhawi. Kisahnya tak dimaksudkan sebagai teka-teki sejarah, melainkan potret kuasa, integritas, dan batas pengetahuan manusia.
Kebijakan politik Utsman bin Affan memicu kegelisahan suku-suku Arab non-Quraisy. Dominasi elite Quraisy, terutama Bani Umayyah, menumbuhkan rasa terpinggirkan yang kelak menyulut gelombang oposisi di pusat-pusat garnisun Irak dan Mesir.
Hadis Nabi Muhammad tentang jumlah 360 persendian manusia terbukti benar secara ilmiah 1.400 tahun kemudian. Temukan penjelasan ilmiah dan keajaiban wahyu yang menunjukkan kebenaran Islam melalui pengetahuan Rasulullah.
Di tengah maraknya kisah mistis tentang Khidir, Qardhawi mengajak umat kembali ke disiplin sanad, nalar sejarah, dan batas-batas wahyu. Antara folklore sufi dan kajian kritis, sosok misterius itu ditimbang ulang.
Ketika gelombang takfir merebak dari Timur Tengah ke Indonesia, Qardhawi menawari jalan lain: melawan ekstremisme dengan ilmu, bukan kekerasan. Tradisi klasik, kritik sanad, dan sosiologi umat dipertemukan kembali.
Di tengah maraknya kisah maulid, Qardhawi menimbang ulang mukjizat Nabi: mana fakta bersanad, mana folklor. Sebuah upaya menata ulang keyakinan umat dengan neraca ilmu hadis dan nalar zaman.
Qardhawi menafsir ulang pertikaian sahabat sebagai konflik politik, bukan kekafiran. Studi modern menegaskan: kata kufur dalam hadis jauh lebih lentur dibanding batas akidah.
PWNU Aceh mengajak masyarakat melaksanakan shalat ghaib untuk para korban banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Abu Sibreh menegaskan pentingnya doa, etika publik, serta solidaritas dalam menghadapi bencana besar yang merenggut ratusan jiwa.
Larangan mengafirkan sesama Muslim kembali relevan. Qardhawi mengingatkan bahayanya, sementara studi modern menunjukkan takfir kerap memicu kekerasan dan perpecahan di dunia Islam.
Perdebatan soal siapa yang layak disebut kafir kembali mencuat. Qardhawi memberi batas tegas, sementara akademisi modern mengingatkan bahaya politisasi takfir yang menghantui dunia Islam.
Iman tak tumbuh sekaligus, begitu pula cacatnya. Qardhawi menempatkan manusia di ruang abu-abu: bukan sepenuhnya putih atau hitam, tempat iman dan nifak bertarung setiap hari.
Masjid Salamad di Long Xuyen, Vietnam resmi dibuka sebagai simbol harmonisasi dan kerja sama strategis RIVietnam, memperkuat peran sosial, dakwah, dan peluang ekonomi halal.
Pengadilan Tinggi Bombay menolak izin pengeras suara untuk masjid di Gondia dan menegaskan bahwa ibadah tak boleh mengganggu ketenangan publik serta menimbulkan polusi suara.
Nasihat Ibnu Qudamah tentang pentingnya memperbaiki diri sebelum sibuk mengkritik orang lain, lengkap dengan ayat Al-Quran sebagai pengingat untuk menjaga diri dan keluarga.