Nabi Muhammad SAW belum lama wafat ketika umat mulai berhadapan dengan pertanyaan pelik: siapa yang boleh ditiru dalam beragama? Berikut penjelasannya.
Dalam Surah Al-Hujurat ayat 2, umat diperingatkan untuk tidak meninggikan suara di hadapan Nabi. Dalam Surah An-Nur ayat 63, umat pun dilarang memanggil beliau seperti mereka memanggil satu sama lain.
Kisah ini memperlihatkan bagaimana tawa dan akal sehat bisa berdampingan dalam menyelesaikan masalah serius. Abu Nawas tidak hanya bijak, tapi juga tahu bagaimana menyentil nurani lewat cara yang tak mengintimidasi.
Kisah ini bukan sekadar lelucon. Di balik kelakar Abu Nawas, terselip pesan bijak: akal sehat harus menyertai setiap perintah, dan kebaikan tidak selalu datang dari kekuasaan, tapi dari kecerdasan yang melayani sesama.
Salah satu teladan yang paling jelas dari metode bertahap itu adalah soal pengharaman khamar. Al-Quran tidak serta-merta mengharamkan minuman keras di awal dakwah.
Ketika rasa takut menguasai, bahkan makhluk paling terlatih pun bisa kehilangan prinsipnya. Monyet yang dilatih untuk mengangguk akhirnya menggeleng karena takut.
Jawaban yang sederhana namun tajam bisa mengalahkan argumen yang panjang tapi mudah disanggah. Ia tak berusaha menjelaskan secara ilmiah atau metafisik, tapi menggunakan logika praktis dan nalar yang jenaka.
Sekelompok warga Madinah bertanya tentang seorang perempuan yang telah selesai thawaf ifadhah, namun tiba-tiba mengalami haid sebelum meninggalkan Mekah. Bolehkah ia pulang?
Riwayat lain bahkan mencatat respons Ibnu Umar yang lebih tajam. Ia menutup pernyataannya dengan kalimat: Sunnatullah dan sunnah Rasul-Nya lebih patut kamu ikuti daripada sunnah si fulan jika kamu memang benar.
Para ulama modern lebih sering mengutip putusan lama ketimbang menggugat kesesuaiannya dengan zaman. Tak heran jika dalam beberapa forum internasional, Islam masih dicurigai sebagai agama yang hidup di abad lampau.
Dari doktrin ekstrem yang menolak ambiguitas moral hingga penolakan terhadap kompromi politik, Khawarij mewariskan semangat hitam-putih dalam beragama yang tak sepenuhnya punah bahkan hingga abad ini.
Etika adalah tentang kelakuan. Akhlak, lebih dalam dari itu. Ia menyentuh ruang terdalam dari iman, pikiran, dan hati nuranidari relasi manusia dengan Tuhan hingga dengan batu yang tak bersuara.
Lantas, bagaimana meneladani keangkuhan Tuhan, jika angkuh itu sendiri dianggap nista? Di sinilah Quraish menekankan konteks. Bahwa sifat-sifat Allah itu bersifat integral dan tak saling bertentangan.
Abu Nawas memang takut pada beruang, tapi ia tidak membiarkan rasa takut itu membuatnya kehilangan akal. Ia tetap tenang, bahkan ketika dijebak Raja. Ketakutan tidak boleh membungkam kreativitas.
Tak banyak perempuan dalam sejarah Islam yang mampu berbicara lantang, apalagi menentang pandangan para lelaki pemuka agama di masanya. Tapi Aisyah binti Abu Bakar bukanlah perempuan biasa.
Peristiwa menyedihkan dalam sejarah Islam yang sering dinamakan al-Fitnat al-Kubra merupakan pangkal pertumbuhan masyarakat (dan agama) Islam di berbagai bidang, khususnya bidang-bidang politik, sosial dan paham keagamaan
Dengan gaya jenakanya, Abu Nawas tidak hanya menghibur, tapi juga menyindir tajam praktik kekuasaan yang salah. Humor dalam kisah ini bukan sekadar lucu, melainkan sarat pesan moral.