Dari lorong sunyi Khurasan, Bayazid melontarkan kata-kata yang menggetarkan: Subhani! Seruan yang membuatnya dipuja para pencari Tuhan, tapi juga dikecam sebagai penyimpang.
Syariah sering dimaknai formal dan kaku. Tasawuf hadir sebagai koreksi batiniah. Bisakah keduanya bersinergi di era modern, ketika spiritualitas dan etika publik kembali dipertaruhkan?
Paham kebangsaan bukanlah konsep yang lahir bersama teks-teks suci. Ia datang belakangan, hasil pergulatan politik modern. Lantas, bagaimana Islam menanggapi konsep yang berakar di Eropa ini?
Mereka mengimani wahyu, mengakui para nabi, dan percaya kehidupan akhirat. Tapi ketika Rasul terakhir datang, keyakinan itu berubah menjadi jarak. Al-Quran menamai mereka Ahli Kitab.
Di lereng Aqabah, dua perempuan berdiri sejajar dengan 73 laki-laki, mengikrarkan baiat yang mengubah sejarah. Momen ini bukan sekadar ritual, tapi pengakuan sosial dan spiritual terhadap martabat perempuan.
Sejak awal abad ke-20, Islam dan komunisme bersaing memperebutkan ruang ideologis di Nusantara. Persaingan ini bukan sekadar doktrin, melainkan juga perebutan pengaruh politik.
Hijrah bukan hanya kisah lelaki. Dari Ummu Kultsum hingga Asma binti Abu Bakar, sejarah mencatat perempuan yang meninggalkan segalanya demi iman, menantang adat dan kekuasaan Quraisy.
Seorang lelaki tua bernama Dhamrah bin Jundub memilih meninggalkan Makkah demi hijrah, meski sakit dan renta. Di tengah padang pasir, ajal menjemputnya, namun Allah menulisnya sebagai muhajir sejati.
Jadwal puasa Yaumul Bidh September 2025 jatuh pada 6, 7, dan 8 September. Simak bacaan niat serta keutamaan puasa sunnah pertengahan bulan Hijriyah untuk menambah pahala dan menenangkan hati.
Seabad setelah Khilafah runtuh, umat Islam masih gamang: modernisasi atau westernisasi? Muhammad Asad mengingatkan, tiruan buta pada Barat bisa mengikis roh peradaban Islam.
Fenomena syirik tak punah, hanya berganti wajah. Dari berhala batu menjadi uang, kekuasaan, hingga ideologi modern. Qardhawi mengingatkan, tauhid tetap pertaruhan terbesar umat.
Di tengah riuh perdebatan identitas, satu kata kembali disorot: umat. Kata yang tampak sederhana, tetapi menyimpan kedalaman makna yang tak habis ditafsirkan.
Larangan dalam Islam tidak satu warna. Ada yang mengoyak akidah, ada yang sekadar mengusik kesempurnaan amal. Fiqh prioritas hadir untuk menata ulang skala nilai yang kerap diabaikan.
Tak ada pengecualian dalam hukum sosial Tuhan: siapa pun yang enggan berubah, akan digilas sejarah. Pertanyaannya, kita di jalur yang mana? Berikut ini penjelasannya.
Kaum Muslimin meniru Barat untuk maju, tapi kehilangan jiwanya sendiri. Apakah kita mengulang kesalahan peradaban yang runtuh, atau menemukan jalan agar ilmu modern tak menggerus iman?
Nilai membentuk wajah peradaban. Al-Quran menegaskan, perubahan sosial lahir dari perubahan mental. Jika hanya mengejar dunia, masyarakat cepat puaslalu runtuh.
Syariah bukan sekadar ibadah individual. Ia dirancang untuk menumbuhkan persatuan. Dari saf salat hingga jadwal Idul Fitri, Islam mengajarkan bahwa kekuatan lahir dari kebersamaan.
Sufisme menolak dibekukan. Ia hidup bukan di teks, tapi di jiwa yang mencari makna. Namun di era modern, bahaya baru muncul: simbol lebih ramai daripada substansi.