Pertanyaan klasik ini kembali mengemuka dalam diskusi para ulama dan masyarakat awam ketika warisan dari orang tua ternyata bercampur dengan hasil korupsi, suap, atau bunga riba.
Humor menjadi cara Nasrudin untuk bertahan hidup dan menundukkan kesewenang-wenangan, bukan dengan perlawanan frontal, tapi dengan akal dan kelucuan yang mencairkan ketegangan.
Tak ada yang salah dari semangat itu. Tapi ketika ilmu yang mereka tinggalkan adalah bagian dari kebutuhan strategis umat, keputusan itu justru membuat kita terdiam.
Penyakit, dalam pandangan ini, bukan sekadar persoalan ketidakseimbangan unsur tubuh. Ia bisa menjadi surat cinta dari Tuhan, tali gaib yang menarik sang hamba kembali ke jalan-Nya.
Gagasan fiqh prioritas Syaikh Yusuf al-Qaradawi menggugah nurani umat: dalam situasi darurat, menyelamatkan nyawa lebih utama daripada menunaikan ibadah sunnah berbiaya besar.
Banyak orang membuka lembaran demi lembaran kitab suci, kitab ilmu, kitab sejarah tapi tak mengizinkan satu kalimat pun benar-benar masuk ke dalam kalbunya.
Tak hanya di bidang filantropi. Penyimpangan itu menjalar ke dimensi ibadah. Ribuan orang kaya rela menghabiskan biaya besar untuk haji berulang atau umrah Ramadhan. Padahal kewajiban haji hanya sekali.
Kisah ini bukan hanya menunjukkan kecerdasan Nasrudin dalam menanggapi tirani, tapi juga memperlihatkan bagaimana para sufi dan ulama kadang harus memilih bahasa hikmah untuk menghadapi kekuasaan zalim.
Ia adalah momen ketika semua manusia dihimpun untuk mempertanggungjawabkan hidup mereka. Namun sebelum itu, akan ada tanda-tanda. Dan sebagian di antaranya kini sedang mampir di depan pintu.
Dalam narasi modern kita, agama hanya jadi pelengkap. Ia hanya muncul di acara pernikahan, peresmian, atau pemakaman. Tapi dalam ranah kehidupan sehari-hari, politik, ekonomi, pendidikan, agama dianggap tidak punya peran.
Di tengah gempuran narasi kiamat yang muram dan destruktif, ajaran Islam justru menyimpan tafsir spiritual yang menghibur dan menenangkan: bahwa kiamat adalah awal, bukan akhir.
Pada zaman Bani Israil, Allah menghendaki untuk menguji tiga orang yang mengalami kondisi sulit: seorang pengidap kusta, seorang laki-laki botak, dan seorang tuna netra.
Al-Hasan al-Bashri, ulama yang terkenal zuhud itu, menjawab dengan tajam: Haji mabrur adalah mereka yang pulang dalam keadaan zuhud terhadap dunia, dan mencintai akhirat.
Suatu hari, salah satunya menjual sebidang tanah kepada yang lain. Tidak lama setelahnya, sang pembeli menggali tanah itu dan menemukan sebuah guci tua yang ternyata berisi emas.
Tak banyak yang menyadari bahwa Makkah adalah kota yang lahir dari doa. Ketika Ibrahim meninggalkan istrinya, Hajar, dan putranya, Ismail, di lembah tandus tak bertanaman, ia tak meminta hujan, tidak pula tanaman.
Ia adalah jalan balik menuju dunia nyata, di mana lisan kembali mudah mencela, tangan kembali merebut yang bukan hak, dan hati kembali lupa kepada yang Maha Lembut.