Dalam dunia yang dipenuhi retorika tentang perdamaian, toleransi, dan non-intervensi, pembicaraan tentang imperialisme Islam seolah terdengar kontras, bahkan provokatif.
Kadang mereka tampak aneh, bahkan mengganggu. Tapi siapa tahu, di balik tindakan mereka ada tujuan yang tidak kita lihat. Dunia ini sering menghakimi tempat, bentuk, atau cara.
Di sinilah letak keunikan Islam sebagai agama yang menyatukan, bukan memisahkan yang menyelaraskan dunia dan akhirat, bukan mengadu keduanya dalam konflik yang tak berkesudahan.
Debat tentang poligami tak pernah padam di ruang publik Indonesia. Antara yang membela atas nama sunah dan yang menolak atas nama keadilan, perdebatan ini terus bergerak di antara teks dan konteks.
Bagi Asad, Islam menegaskan bahwa manusia tidak harus menunggu akhirat untuk menjadi sempurna. Kesempurnaan itu bukan mutlak, bukan tanpa cela, bukan pencapaian ilahi.
Sebanyak 136 kali namanya disebut dalam Kitab Suci Al-Quran, terbanyak dibanding nabi-nabi lain. Kisahnya bukan sekadar sejarah, tapi pancaran spiritual yang tetap menyala bagi umat Islam hari ini.
Betapa Al-Quran bersikap tegas terhadap larangan menikahi orang-orang musyrik. Dalam Surat Al-Baqarah (2): 221 ditegaskan, Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman.
Tidak setiap hal di dunia bisa diukur dengan logika tunggal atau prinsip yang kaku. Dalam hidup, apa yang bijak di satu keadaan bisa menjadi bodoh di keadaan lain.
Beliau menegaskan bahwa tidak ada satu pun hadis sahih yang memastikan bahwa makhluk pertama adalah Nabi Muhammad, atau pena, atau akal, sebagaimana kerap diklaim oleh sebagian orang.
Tradisi yang hidup di tengah masyarakat Indonesia ini tidak berasal dari syariat yang baku, namun berakar pada spirit kepedulian dan cinta kasih kepada mereka yang kehilangan pelindung.
Dari keutamaan puasa hingga praktik ritual yang dipertanyakan, hari Asyura menjadi ruang tarik-menarik antara warisan keimanan dan budaya turun-temurun.
Muhammad Asad mengajak dunia Islam untuk tidak menutup diri dari perubahan, tetapi juga tidak tunduk begitu saja pada arus yang merusak fondasi nilai. Di antara dua ekstrem itulah, simpang jalan Islam terbentang hingga hari ini.
Nabi Yunus dihukum karena marah dan meninggalkan kaumnya. Dalam gelap lautan, gelap malam, dan gelap perut ikan, ia belajar bahwa pengampunan Allah lebih besar daripada rasa kecewa manusia.
Banyak yang mengira hijrah Nabi Muhammad ? ke Madinah terjadi di bulan Muharram. Sejarah berkata lain. Kalender Hijriyah justru lahir bertahun-tahun setelah hijrah itu sendiri.
Pakaian serba hitam membanjiri jalanan. Genderang duka ditabuh bertalu-talu, mengiringi arak-arakan unta berhiaskan kain berwarna-warni. Di tengah hiruk pikuk kota Teheran, suara ratapan menggema bersahut-sahutan.
Dibaca setiap tahun di hari Asyura, doa ini melampaui batas teks. Ia jadi cermin ketundukan umat kepada Tuhan, dan pengingat akan nasib para nabi yang diselamatkan dalam hari-hari genting.
Bulan pembuka tahun Hijriah ini sarat makna dan sejarah. Al-Qur'an dan literatur klasik Islam mencatat banyak peristiwa besar terjadi di dalamnya, memperkuat kedudukannya sebagai salah satu bulan paling mulia.