Di balik tirai kesopanan dan suara yang diredupkan, kata seks selama berabad-abad dikurung dalam kesalahpahaman. Dianggap najis, tak layak dibicarakan, apalagi diteliti.
Dalam pandangan Islam, relasi suami-istri bukan sekadar kontrak biologis atau urusan domestik. Ia adalah kemitraan spiritual dan sosial yang berpijak pada rasa hormat, cinta, dan tanggung jawab.
Di tengah kecamuk zaman yang membelah antara bentuk dan batin, tasawuf hadir sebagai jalan sunyi, namun tak sepi perdebatan. Antara mereka yang memujanya setinggi langit, dan yang menolaknya sekeras batu.
Di Madinah, Muawiyah dulu berjalan mengikuti bayangan unta. Di Damaskus, Wail duduk di singgasana Muawiyah. Dua jalan yang terhubung oleh iman, oleh takwa, oleh akhlak Rasulullah yang mereka pelajari perlahan-lahan.
Di zaman ini, kisah dua lelaki Bani Israil itu seperti dongeng. Siapa yang masih percaya Allah sebagai saksi dan penjamin utang? Siapa yang masih rela mengirim amanah lewat kayu, tanpa aplikasi pelacak, tanpa kwitansi?
Nasrudin tidak membalas kemarahan istrinya, tidak melawan, apalagi memperkeruh suasana. Ia justru merespons dengan humor dan cara yang membuat orang lain tersenyum.
Pemandangan itu bukan anomali. Justru begitulah wajah keterlibatan sosial muslimah pada masa Rasulullah. Mereka hadir di ruang-ruang publik, ikut menentukan arah kehidupan masyarakat, dengan tetap menjaga tuntunan agama.
Islam datang membawa keseimbangan antara dunia rohani dan dunia nyata, antara akal dan rasa. Itu pula sebabnya, para sufi yang lurus selalu berjalan di atas timbangan Al-Quran dan Sunnah.
Dengan cara jenaka, kisah ini mengajak kita bercermin pada diri sendiri: apakah kita pernah membenarkan sesuatu yang tidak benar hanya karena kita dapat keuntungan?
Pertanyaan itu membekas hingga hari ini, menjadi salah satu momen penting dalam sejarah kesetaraan spiritual antara laki-laki dan perempuan dalam Islam.
Nasrudin dengan santai meminjam kuda yang sebenarnya terlalu cepat untuknya. Kadang kita juga terburu-buru mengambil tanggung jawab atau kesempatan tanpa memahami risikonya. Hasilnya? Kita justru terbawa oleh keadaan.
Maurice Bucaille menyebut keretakan itu sebagai bukti bahwa kitab suci ini adalah hasil proses panjang yang melibatkan tradisi-tradisi lisan, penyusun, dan editor selama berabad-abad.
Manusia tidak benar-benar tahu cara memuji Tuhan yang paling pantas. Pengetahuan tentang Allah selalu terbatas, sedangkan pujian yang benar hanya bisa lahir dari pengetahuan yang benar tentang siapa yang dipuji.
Ia lahir di zaman ketika manusia menggantungkan sembah sujud pada bintang-bintang di langit, pada patung-patung buatan tangan sendiri, bahkan pada sesama manusia.
Walaupun istrinya mencoba menutupi kesalahannya dengan menyalahkan kucing, Nasrudin dengan cerdik membuktikan bahwa alasan itu tidak masuk akal. Kebenaran akhirnya tetap muncul.
Dalam tradisi Indonesia, seserahan menjadi simbol janji, pengikat antara dua keluarga, dan diwarnai gengsi. Namun, secara fikih, para ulama berbeda pandangan apakah seserahan yang sudah diterima bisa diminta kembali.